-->

Saturday, November 2, 2013

Kisah Kunjungan Lima Ratus Bhikkhu (Dhammapada 6 : 87-89)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana 


(87) Meninggalkan rumah dan pergi menempuh kehidupan tanpa rumah, 
demikian hendaknya orang bijaksana meninggalkan keadaan gelap (kebodohan), 
dan mengembangkan keadaan terang (kebijaksanaan). 
Hendaknya ia mencari kebahagiaan pada ketidakmelekatan yang sulit didapat.

(88) Dengan meninggalkan semua kesenangan indria dan kemelekatan, 
demikian hendaknya orang bijaksana membersihkan dirinya
dari noda-noda pikiran.

(89) Mereka yang telah menyempurnakan pikirannya
dalam Tujuh Faktor Penerangan, 
yang tanpa ikatan, yang bergembira dengan batin yang bebas, 
yang telah bebas dari kekotoran batin, yang bersinar, 
maka sesungguhnya mereka telah mencapai Nibbana
dalam kehidupan sekarang ini juga.
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lima ratus bhikkhu yang menjalani masa vassa di Kosala, datang untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha di Vihara Jetavana pada akhir masa vassa.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini sesuai dengan berbagai perangai mereka:

"Kaṇhaṃ dhammaṃ vippahāya
sukkaṃ bhāvetha paṇḍito,
okā anokaṃ āgamma
viveke yattha dūramaṃ.

Tatrābhiratim iccheyya, hitvā kāme akiñcano
pariyodapeyya attānaṃ cittaklesehi paṇḍito.

Yesaṃ sambodhi-aṅgesu sammā cittaṃ subhāvitaṃ
ādānapaṭinissagge anupādāya ye ratā
khīṇāsavā jutīmanto te loke parinibbutā."

Meninggalkan rumah dan pergi menempuh kehidupan tanpa rumah,
demikian hendaknya orang bijaksana meninggalkan keadaan gelap (kebodohan),
dan mengembangkan keadaan terang (kebijaksanaan).
Hendaknya ia mencari kebahagiaan pada ketidakmelekatan yang sulit didapat.

Dengan meninggalkan semua kesenangan indria dan kemelekatan,
demikian hendaknya orang bijaksana membersihkan dirinya
dari noda-noda pikiran.

Mereka yang telah menyempurnakan pikirannya
dalam Tujuh Faktor Penerangan,
yang tanpa ikatan, yang bergembira dengan batin yang bebas,
yang telah bebas dari kekotoran batin, yang bersinar,
maka sesungguhnya mereka telah mencapai Nibbana
dalam kehidupan sekarang ini juga.

Kisah Pendengar-pendengar Dhamma (Dhammapada 6 : 85-86)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana

(85) Di antara umat manusia
hanya sedikit yang dapat mencapai pantai seberang, 
sebagian besar hanya berjalan hilir mudik di tepi sebelah sini.

(86) Mereka yang hidup sesuai dengan Dhamma
yang telah diterangkan dengan baik,
akan mencapai Pantai Seberang,
menyeberangi alam kematian yang sangat sukar diseberangi.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada suatu kesempatan, sekumpulan orang dari Savatthi bersama-sama membuat persembahan khusus kepada para bhikkhu, dan mereka meminta para bhikkhu memberikan khotbah Dhamma sepanjang malam di tempat mereka. Pada saat itu, banyak di antara para pendengar tidak dapat duduk sepanjang malam dan pulang lebih cepat; beberapa orang duduk disana sepanjang malam, tetapi sebagian besar waktunya dihabiskan dengan mengantuk dan setengah tidur. Hanya sedikit orang yang mendengarkan dengan penuh perhatian khotbah Dhamma itu.

Pagi hari para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha tentang apa yang terjadi pada malam hari sebelumnya, Beliau menjawab, "Kebanyakan orang terikat pada dunia ini, hanya sedikit orang yang dapat mencapai pantai seberang (nibbana)".

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Appakā te manussesu ye janā pāragāmino
athāyaṃ itarā pajā tiram evānudhāvati

Ye ca kho sammadakkhāte
dhamme dhammānuvattino
te janā pāram essanti
maccudheyyaṃ suduttaraṃ."

Di antara umat manusia
hanya sedikit yang dapat mencapai pantai seberang,
sebagian besar hanya berjalan hilir mudik di tepi sebelah sini.

Mereka yang hidup sesuai dengan Dhamma
yang telah diterangkan dengan baik,
akan mencapai Pantai Seberang,
menyeberangi alam kematian yang sangat sukar diseberangi.

Kisah Bhikkhu Dhammika (Dhammapada 6 : 84)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana

(84) Seseorang yang arif tidak berbuat jahat
demi kepentingannya sendiri ataupun orang lain,
demikian pula ia tidak menginginkan anak, kekayaan, pangkat
atau keberhasilan dengan cara yang tidak benar.
Orang seperti itulah yang sebenarnya luhur, bijaksana, dan berbudi.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dhammika tinggal di Savatthi bersama istrinya. Suatu hari, ia berkata kepada istrinya yang sedang hamil bahwa ia berkeinginan untuk menjadi seorang bhikkhu. Istrinya memohon kepadanya untuk menunggu sampai kelahiran anak mereka. Ketika anak tersebut lahir, ia kembali meminta kepada istrinya untuk memperbolehkannya pergi. Sekali lagi istrinya memohon kepadanya untuk menunggu sampai anak tersebut dapat berjalan.

Kemudian Dhammika berkata kepada dirinya sendiri, "Tidak ada gunanya bagiku meminta persetujuan dari istriku untuk menjadi bhikkhu, saya harus berjuang untuk kebebasanku sendiri!" Setelah membuat keputusan teguh, ia meninggalkan rumahnya untuk menjadi seorang bhikkhu. Sang Buddha memberikan objek meditasi kepadanya, dan ia mempraktekkan meditasi dengan sungguh-sungguh dan rajin, tak lama kemudian ia menjadi seorang arahat.

Beberapa tahun setelah itu, beliau menengok rumahnya dengan maksud untuk mengajarkan Dhamma kepada istri dan anaknya. Anaknya menjadi bhikkhu dan kemudian mencapai tingkat kesucian arahat. Sang istri kemudian berkata, "Sekarang suami dan anakku telah meninggalkan rumah, saya lebih baik pergi juga." Dengan pikiran ini, ia juga meninggalkan rumah dan menjadi bhikkhuni, dan akhirnya ia juga mencapai tingkat kesucian arahat.

Dalam pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha diberitahukan bagaimana Dhammika menjadi seorang bhikkhu dan mencapai tingkat kesucian arahat, dan karena melalui Dhammika, anak dan istrinya juga menjadi arahat.
Kepada mereka Sang Buddha bersabda, "Para bhikkhu, orang bijaksana tidak menginginkan kekayaan dan kemakmuran yang diperoleh dengan cara tidak benar. Apakah hal itu dilakukan demi dirinya sendiri atau demi orang lain. Ia berjuang hanya untuk pembebasan dirinya dari roda tumimbal lahir (samsara) dengan cara memahami Dhamma dan hidup sesuai dengan Dhamma."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Na attahetu na parassa hetu
na puttam icche na dhanaṃ na raṭṭhaṃ
na iccheyya adhammena samiddhim attano
sa sīlavā paññavā dhammiko siyā."

Seseorang yang arif tidak berbuat jahat
demi kepentingannya sendiri ataupun orang lain,
demikian pula ia tidak menginginkan anak, atau kekayaan, atau kerajaan
dengan berbuat jahat maupun kesuksesan dengan cara yang tidak benar.
Orang seperti itulah yang sebenarnya luhur, bijaksana, dan berbudi.

Kisah Lima Ratus Bhikkhu (Dhammapada 6 : 83)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana

(83) Orang bajik membuang kemelekatan terhadap sesuatu, 
orang suci tidak membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan nafsu keinginan. 
Dalam menghadapi kebahagiaan atau kemalangan, 
orang bijaksana tidak menjadi gembira maupun kecewa.
--------------------------------------------------------------------------------------------------

Atas permintaan seorang brahmana dari Veranja, Sang Buddha pada suatu saat tinggal di Veranja bersama lima ratus orang bhikkhu. Ketika berada di Veranja sang brahmana lalai untuk memperhatikan kebutuhan hidup mereka. Penduduk Veranja yang kemudian menghadapi kelaparan, hanya dapat mempersembahkan sangat sedikit dana pada saat bhikkhu berpindapatta. Kendatipun mengalami penderitaan para bhikkhu tidak berputus asa. Mereka hanya cukup mendapatkan makanan berupa padi-padian yang dipersembahkan para penjual kuda setiap hari. Saat akhir masa vassa tiba, setelah memberitahu sang brahmana, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana beserta lima ratus bhikkhu. Masyarakat Savatthi menyambut kedatangan mereka dengan bermacam-macam pilihan makanan.

Sekelompok orang yang hidup bersama para bhikkhu, memakan makanan yang tak dimakan oleh para bhikkhu. Mereka makan dengan rakus seperti orang yang benar-benar lapar, dan pergi tidur setelah mereka makan. Setelah bangun tidur, mereka berteriak, bernyanyi dan menari, mereka membuat suatu keributan.

Ketika Sang Buddha datang sore hari di tengah-tengah para bhikkhu, para bhikkhu melaporkan hal itu kepada beliau, perilaku orang-orang yang tidak dapat dikendalikan, dan berkata "Orang-orang ini hidup dari sisa makanan, mereka bersikap layak dan berperilaku baik ketika kita semua menghadapi penderitaan dan kelaparan di Veranja. Sekarang mereka cukup mendapat makanan yang baik, mereka berteriak, menyanyi, dan menari, serta membuat keributan di antara mereka sendiri. Berbeda dengan para bhikkhu. Para bhikkhu bagaimanapun keadaannya memiliki perilaku yang sama, baik di sini maupun di Veranja."

Kepada mereka Sang Buddha menjawab "Itu merupakan sifat alamiah dari orang bodoh, penuh dengan duka cita dan merasa tertekan ketika mereka dalam kesulitan, tetapi penuh dengan suka cita dan merasa gembira ketika sesuatu berjalan lancar. Orang bijaksana bagaimanapun keadaannya dapat bertahan dalam gelombang kehidupan baik naik maupun turun."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Sabbattha ve sappurisā vajanti,
na kāmakāmā lapayanti santo,
sukhena phuṭṭhā athavā dukhena
na uccāvacaṃ paṇḍitā dassayanti."

Orang bajik membuang kemelekatan terhadap sesuatu,
orang suci tidak membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan nafsu keinginan.
Dalam menghadapi kebahagiaan atau kemalangan,
orang bijaksana tidak menjadi gembira maupun kecewa.

Kisah Kanamata (Dhammapada 6 : 82)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana

(82) Bagaikan danau yang dalam, airnya jernih dan tenang. 
Demikian pula batin para orang bijaksana, menjadi tentram
karena mendengarkan Dhamma.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kanamata (bhs Pali; mata = ibu, Kanamata = ibunya Kana) adalah umat awam berbakti, murid Sang Buddha. Anaknya yang bernama Kana telah menikah dengan seorang pemuda dari desa lain. Suatu ketika Kana menjenguk ibunya untuk beberapa waktu, suaminya mengirim pesan agar ia segera pulang ke rumah. Ibunya berkata kepadanya untuk menunggu beberapa hari sebab ia ingin membuatkan daging manis (dendeng) untuk suami Kana. Esoknya Kanamata membuat sejumlah dendeng, tetapi ketika empat bhikkhu berpindapatta di rumahnya, ia mendanakan sejumlah daging kepada mereka. Empat bhikkhu tersebut berkata kepada bhikkhu lainnya tentang persembahan dana makanan dari rumah Kanamata, mereka juga melakukan pindapatta di rumah Kanamata. Kanamata sebagai pengikut dan murid Sang Buddha mempersembahkan dendengnya kepada para bhikkhu yang datang satu persatu. Pada akhirnya tidak ada yang tersisa untuk Kana dan ia tidak dapat pulang ke rumahnya pada hari itu.

Hal yang sama terjadi pada dua hari berikutnya, ibunya membuat sejumlah dendeng, para bhikkhu datang berpindapatta di rumahnya, ia mempersembahkan dendengnya kepada para bhikkhu, sehingga tidak ada tersisa untuk dibawa pulang anaknya, dan anaknya tidak dapat pulang ke rumahnya.

Pada hari ketiga, suaminya mengirimkan pesan untuknya. Pesan yang merupakan suatu peringatan keras, jika ia tidak pulang ke rumah esok hari, maka suaminya akan menikah dengan wanita lain.

Tetapi pada esok harinya, Kana tetap tidak dapat pulang ke rumahnya, sebab ibunya mempersembahkan semua dendengnya untuk para bhikkhu. Peringatan keras tadi menjadi kenyataan, suami Kana menikah dengan wanita lain.

Kana menjadi tidak senang terhadap para bhikkhu. Ia beranggapan bahwa mereka yang menjadi gara-gara suaminya menikah lagi. Seringkali ia mencaci maki para bhikkhu, sehingga para bhikkhu akhirnya menjauh dari rumah Kanamata.

Mendengar perihal Kana, Sang Buddha pergi ke rumah Kanamata. Di sana Kanamata mempersembahkan sejumlah bubur nasi. Setelah menyantap persembahan itu, Sang Buddha menemui Kana dan bertanya kepadanya, "Apakah para bhikkhu menerima apa yang diberikan, atau yang tidak diberikan kepada mereka?" Kana menjawab bahwa para bhikkhu menerima apa yang diberikan kepada mereka, dan menambahkan bahwa "Mereka tidak bersalah, saya yang salah." Jadi ia mengakui kesalahannya dan kemudian memberi hormat kepada Sang Buddha.

Sang Buddha kemudian memberikan khotbah. setelah mendengarkan khotbah itu, Kana mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Pada perjalanan pulang ke vihara, Sang Buddha bertemu dengan Raja Pasenadi dari Kosala. Beliau mengatakan perihal Kana dan sikapnya yang tidak baik terhadap para bhikkhu. Raja Pasenadi bertanya apakah Sang Buddha telah dapat mengajarkan kebenaran (Dhamma) kepadanya dan membuatnya melihat Dhamma? Sang Buddha menjawab "Ya, Tathagata telah mengajarkan Dhamma kepadanya, dan Tathagatha juga telah membuatnya menjadi kaya dalam kehidupan mendatang." Kemudian Raja Pasenadi berjanji kepada Sang Buddha untuk membuatnya kaya dalam kehidupan sekarang.

Raja mengirimkan orang-orangnya untuk menjemput Kana dengan tandu. Ketika Kana tiba di istana, raja mengumumkan kepada para menterinya “Siapa yang dapat memberi kenyamanan hidup kepada anakku Kana, silahkan merawatnya." Salah seorang menteri dengan sukarela mengadopsi Kana sebagai anaknya, memberinya kekayaan dan berkata kepadanya, "Kamu boleh memberikan dana sebanyak yang kamu suka." Setiap hari Kana memberikan persembahan dana kepada para bhikkhu di empat gerbang kota.

Ketika diberitahukan tentang Kana dan kemurahan hatinya dalam memberikan dana, Sang Buddha bersabda, "Para bhikkhu pikiran Kana sebelumnya diselimuti kabut dan lumpur, sekarang telah menjadi jernih dan tenang oleh kata-kata-Ku."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Yathāpi rahado gambhīro vippasanno anāvilo
evaṃ dhammāni sutvāna vippasīdanti paṇḍitā."

Bagaikan danau yang dalam,
airnya jernih dan tenang.
Demikian pula batin para orang bijaksana,
menjadi tentram karena mendengarkan Dhamma.

Kisah Lakundaka Bhaddiya Thera (Dhammapada 6 : 81)

 VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana

(81) Bagaikan batu karang yang tak tergoncangkan oleh badai, 
demikian pula para bijaksana tidak akan terpengaruh oleh celaan maupun pujian.
------------------------------------------------------------------------------------------------

Bhaddiya adalah salah satu bhikkhu yang tinggal di Vihara Jetavana. Karena tubuhnya pendek maka ia dikenal dengan sebutan Lakundaka (pendek) oleh para bhikkhu lainnya. Lakundaka Bhaddiya mempunyai sifat yang sangat baik, meskipun bhikkhu-bhikkhu muda sering menggodanya dengan menarik hidungnya atau telinganya atau menepuk kepalanya. Sangat sering mereka bercanda dan berkata "Paman, bagaimana keadaanmu? Apakah kamu berbahagia, atau, apakah kamu bosan dengan kehidupan sebagai seorang bhikkhu di sini?" dan lain sebagainya. Lakundaka Bhaddiya tidak pernah membalas dengan kemarahan atau mencaci maki mereka, bahkan dalam hati kecilnya pun ia tidak marah terhadap mereka.

Ketika diceritakan tentang kesabaran Lakundaka Bhaddiya, Sang Buddha bersabda, "Seorang arahat tidak pernah marah maupun kehilangan kesabaran, ia tidak punya keinginan untuk berkata kasar atau berpikir menyakiti orang lain. Ia laksana batu karang yang tak tergoyahkan, seorang arahat tidak tergoyahkan karena celaan ataupun pujian."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

“Selo yathā ekaghano vātena na samīrati
evaṃ nindāpasaṃsāsu na samiñjanti paṇḍitā”

Bagaikan batu karang yang tak tergoncangkan oleh badai,
demikian pula para bijaksana tidak akan terpengaruh oleh celaan maupun pujian.

Kisah Samanera Pandita (Dhammapada 6 : 80)

VI. Pandita Vagga - Orang Bijaksana

(80) Pembuat saluran air mengalirkan air, 
tukang panah meluruskan anak panah, 
tukang kayu melengkungkan kayu, 
orang bijaksana mengendalikan dirinya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------

Pandita adalah seorang putra orang kaya di Savatthi. Ia menjadi seorang samanera pada saat berusia tujuh tahun. Pada hari ke delapan setelah menjadi samanera, ia pergi mengikuti Sariputta Thera berpindapatta, ia melihat beberapa petani mengairi ladangnya dan bertanya kepada Y.A. Sariputta thera "Dapatkah air yang tanpa kesadaran dibimbing ke tempat yang seseorang kehendaki?" Sang Thera menjawab, "Ya, air dapat dibimbing kemanapun yang dikehendaki seseorang."

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, samanera melihat beberapa pembuat anak panah memanasi panah mereka dengan api dan meluruskannya. Selanjutnya ia melewati beberapa tukang kayu sedang memotong, menggergaji, dan menghaluskan kayu untuk dibuat roda kereta.

Kemudian ia merenung "Jika air yang tidak memiliki kesadaran dapat diarahkan kemanapun yang seseorang inginkan, jika bambu bengkok yang tanpa kesadaran dapat diluruskan, dan jika kayu yang tanpa kesadaran dapat dibuat sesuatu yang berguna, mengapa saya, yang punya kesadaran, tidak dapat menjinakkan pikiranku dan melatih meditasi ketenangan dan pandangan terang?"

Saat itu juga ia memohon izin kepada Y.A. Sariputta untuk kembali ke kamarnya di vihara. Di sana ia bersemangat dan rajin bermeditasi, menggunakan tubuh jasmani sebagai objek perenungan. Sakka dan para dewa membantu pelaksanaan meditasinya dengan cara menjaga kesunyian suasana vihara dan sekitarnya. Sebelum waktu makan tiba, samanera Pandita mencapai tingkat kesucian anagami.

Waktu itu, Y.A. Sariputta membawakan makanan untuk samanera. Sang Buddha melihat dengan kemampuan batin luar biasa-Nya bahwa Samanera Pandita telah mencapai tingkat kesucian anagami, dan jika ia meneruskan melaksanakan meditasi, maka tidak lama lagi mencapai tingkat kesucian arahat. Kemudian Sang Buddha memutuskan untuk mencegah Sariputta memasuki kamar samanera. Sang Buddha berdiri di muka pintu kamar samanera dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Sariputta Thera. Ketika percakapan berlangsung di tempat itu, samanera mencapai tingkat kesucian arahat. Jadi, samanera mencapai tingkat kesucian arahat pada hari ke delapan setelah ia menjadi samanera.

Berkenaan dengan hal itu, Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu di vihara, "Ketika seseorang dengan sungguh-sungguh melaksanakan Dhamma, Sakka dan para dewa akan melindunginya dan menjadi pelindung. Saya sendiri mencegah Sariputta masuk di muka pintu kamar, sehingga samanera Pandita tidak terganggu. Samanera setelah melihat petani mengairi ladangnya, pembuat anak panah meluruskan panah-panah mereka, dan tukang kayu membuat roda kereta, menjinakkan pikirannya dan melaksanakan Dhamma, ia sekarang telah menjadi seorang arahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Udakaṃ hi nayanti nettikā
usukārā namayanti tejanaṃ
dāruṃ namayanti tacchakā
attānaṃ damayanti paṇḍitā."

Pembuat saluran air mengalirkan air,
tukang panah meluruskan anak panah,
tukang kayu melengkungkan kayu,
orang bijaksana mengendalikan dirinya.