-->
Showing posts with label AGAMA. Show all posts
Showing posts with label AGAMA. Show all posts

Saturday, November 2, 2013

Kisah Udayi Thera (Dhammapada 5 : 64)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(64) Orang bodoh, walaupun selama hidupnya bergaul dengan orang bijaksana, 
tetap tidak akan mengerti Dhamma, 
bagaikan sendok yang tidak dapat merasakan rasa sayur.
----------------------------------------------------------------------------------------------------

Udayi Thera sering pergi ke tempat ceramah dan duduk di atas tempat duduk, dimana para thera terpelajar duduk pada waktu menyampaikan khotbah*. Pada suatu kesempatan, beberapa bhikkhu tamu menyangka bahwa ia adalah seorang thera yang terpelajar, dan mereka mengajukan beberapa pertanyaan tentang lima kelompok unsur khanda. Udayi Thera tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sebab beliau tidak mengerti sama sekali tentang Dhamma. Para bhikkhu tamu sangat terkejut menemukan seseorang yang tinggal dalam satu vihara dengan Sang Buddha hanya mengetahui sedikit saja tentang khanda dan ayatana (dasar indria dan objek indria).

Kepada bhikkhu tamu itu Sang Buddha menerangkan keadaan Udayi Thera dalam syair berikut ini:

"Yāvajīvam pi ce bālo paṇḍitaṃ payirupāsati
na so dhammaṃ vijānāti dabbī sūparasaṃ yathā."

Orang bodoh, walaupun selama hidupnya bergaul dengan orang bijaksana,
tetap tidak mengerti Dhamma,
bagaikan sendok yang tidak dapat merasakan rasa sayur.
--------

Notes :
* Sekadar info tatakrama di vihara:
Di dalam vihara; di ruang bhaktisala atau dharmasala, di depan altar biasanya terdapat kursi penceramah, yang digunakan oleh bhikkhu untuk berceramah. Sebelum duduk di kursi/tempat duduk itu untuk berceramah, bhikkhu tersebut akan memberikan penghormatan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha.
Tempat duduk ini tidak pantas diduduki sembarangan dan oleh sembarang orang, sangat tidak sopan. Ibaratnya seperti singgasana raja/ratu yang tidak boleh sembarangan orang duduk.

Kisah Dua Orang Pencopet (Dhammapada 5 : 63)


V. Bala Vagga - Orang Bodoh


(63) Bila orang bodoh dapat menyadari kebodohannya, 
maka ia dapat dikatakan bijaksana; 
tetapi orang bodoh yang menganggap dirinya bijaksana, 
sesungguhnya dialah yang disebut orang bodoh.
------------------------------------------------------------------------------------------------------



Suatu ketika dua orang pencopet bersama-sama dengan sekelompok umat awam pergi ke Vihara Jetavana. Di sana Sang Buddha sedang memberikan khotbah. Satu di antara mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencapai tingkat kesucian sotapatti.



Tetapi pencopet satunya lagi tidak memperhatikan khotbah yang disampaikan, karena ia hanya bertujuan untuk mencuri ; dan ia berhasil mengambil sedikit uang dari salah seorang umat.


Setelah khotbah berakhir mereka pulang dan memasak makan siangnya di rumah pencopet kedua yang tadi berhasil mencuri uang. Istri dari pencopet kedua mengejek pencopet pertama: "Kamu amat bijaksana ya, bahkan sampai tidak punya apapun untuk dimasak di rumahmu."


Mendengar pernyataan tersebut, pencopet pertama berpikir, "Orang ini sangat bodoh, dia berpikir bahwa dia sangat pintar." Kemudian bersama-sama dengan sanak keluarganya, ia menghadap Sang Buddha dan menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya.


Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:


"Yo bālo maññatī bālyaṃ paṇḍito vāpi tena so,
bālo ca paṇḍitamānī sa ve bālo ti vuccati."



Bila orang bodoh dapat menyadari kebodohannya,
maka ia dapat dikatakan bijaksana;
tetapi orang bodoh yang menganggap dirinya bijaksana,
sesungguhnya dialah yang disebut orang bodoh.



Semua sanak saudara pencopet pertama tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Kisah Ananda, Seorang Hartawan (Dhammapada 5 : 62)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(62) "Anak-anak ini milikku, kekayaan ini milikku," 
demikianlah pikiran orang bodoh. 
Apabila dirinya sendiri sebenarnya bukan merupakan miliknya, 
bagaimana mungkin anak dan kekayaan itu menjadi miliknya?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tinggallah seorang hartawan yang sangat kaya bernama Ananda di Savatthi. Meskipun dia memiliki delapan puluh crore, dia enggan sekali berdana. Kepada anaknya Mulasiri, dia sering mengatakan, "Jangan berpikir bahwa kekayaan yang kita miliki saat ini banyak sekali. Jangan berikan apapun dari harta milikmu, karena kau harus menambah hartamu. Jika tidak, kekayaanmu semakin berkurang."

Orang kaya ini memiliki lima guci berisi emas yang dikubur di dalam rumahnya, dan ia meninggal dunia tanpa memberitahukan tempat penyimpanan guci itu kepada putranya.

Ananda, orang kaya yang telah meninggal tadi, dilahirkan di sebuah perkampungan pengemis, tidak jauh dari Savatthi. Dimulai sejak ibunya mengandung, penghasilan para pengemis menurun. Penduduk perkampungan itu berpikir bahwa ada seseorang yang tidak beruntung dan menyebabkan kesialan di antara mereka. Dengan membagi mereka ke dalam kelompok-kelompok dan melakukan proses eliminasi, mereka sampai pada kesimpulan bahwa pengemis wanita yang sedang mengandung itu yang mendatangkan kesialan bagi mereka. Maka ia pun diusir keluar dari desa.

Ketika anaknya lahir, anaknya sangat jelek dan menjijikan. Jika wanita itu pergi mengemis sendirian ia akan memperoleh hasil seperti biasa, tetapi jika ia pergi bersama putranya, ia tidak mendapatkan apa-apa. Maka, ketika putranya dapat pergi meminta-minta sendiri, ibunya memberikan piring mengemis di tangannya dan kemudian meninggalkannya. Ketika pengemis muda itu berkelana ke Savatthi, ia teringat rumahnya dan kehidupannya yang lampau. Ia lalu mengunjungi rumah tersebut. Anak-anak dari putranya, Mulasiri, melihatnya. Mereka sangat ketakutan melihat penampilannya yang buruk dan mulai menangis. Pelayan-pelayan kemudian memukulinya dan mendorongnya keluar rumah.

Sang Buddha yang sedang berpindapatta melihat peristiwa itu dan meminta Y.A. Ananda untuk mengundang Mulasiri. Ketika Mulasiri datang, Sang Buddha memberitahukan bahwa pengemis muda tadi adalah ayahnya sendiri pada kehidupan yang lampau. Tetapi Mulasiri tidak mempercayainya. Maka Sang Buddha menyuruh pengemis muda itu untuk menunjukkan dimana ia mengubur lima guci emasnya. Akhirnya Mulasiri menerima kenyataan yang ada, dan sejak itu ia menjadi umat awam pengikut Sang Buddha.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Puttā m’ atthi dhanaṃ m’atthi
iti bālo vihaññati
attā hi attano n’atthi
kuto puttā kuto dhanaṃ."

"Anak-anak ini milikku, kekayaan ini milikku,"
demikianlah pikiran orang bodoh.
Apabila dirinya sendiri sebenarnya bukan merupakan miliknya,
bagaimana mungkin anak dan kekayaan itu menjadi miliknya?

Kisah Murid Yang Tinggal Bersama Mahakassapa Thera (Dhammapada 5 : 61)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(61) Apabila dalam pengembaraan seseorang tak menemukan sahabat
yang lebih baik atau sebanding dengan dirinya,
maka hendaklah ia tetap melanjutkan pengembaraannya seorang diri.
Janganlah bergaul dengan orang bodoh. 
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ketika Mahakassapa Thera bersemayam dekat Rajagaha, beliau tinggal bersama dua orang bhikkhu muda. Salah satu bhikkhu tersebut sangat hormat, patuh, dan taat kepada Mahakassapa Thera. Tetapi bhikkhu yang satu lagi tidak seperti itu. Ketika Mahakassapa Thera mencela kekurang-taatan melaksanakan tugas-tugas murid yang belakangan, murid tersebut sangat kecewa.

Pada suatu kesempatan, ia pergi ke salah satu rumah umat awam siswa Mahakassapa Thera, dan membohongi mereka bahwa Sang Thera sedang sakit. Ia mendapatkan makanan pilihan dari mereka untuk Mahakassapa Thera. Tetapi ia makan makanan tersebut di perjalanan. Ketika Sang Thera menasehati tentang kelakuannya itu, bhikkhu tersebut menjadi sangat marah.

Keesokan harinya ketika Mahakassapa Thera pergi keluar untuk berpindapatta, bhikkhu muda yang bodoh ini tidak ikut. Ia memecahkan tempat air dan kuali, serta membakar vihara.

Seorang bhikkhu dari Rajagaha menceriterakan peristiwa itu kepada Sang Buddha, Sang Buddha mengatakan lebih baik Mahakassapa Thera tinggal sendirian daripada tinggal bersama orang bodoh.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 61 berikut:

“Carañ ce nādhigaccheyya seyyaṃ sadisam attano
Ekacariyaṃ daḷhaṃ kayirā n’atthi bāle sahāyatā”

Apabila dalam pengembaraan seseorang tak menemukan sahabat yang lebih baik atau sebanding dengan dirinya, maka hendaklah ia tetap melanjutkan pengembaraannya seorang diri. Janganlah bergaul dengan orang bodoh.

Bhikkhu dari Rajagaha tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.***
---------
Notes :
Bālā = orang bodoh, tidak bijaksana, dungu.

Dalam sutta-sutta ataupun artikel Dhamma, yang disebut dengan ‘orang bodoh’ adalah orang yang tidak bijaksana. Sama sekali bukan orang yang bodoh dalam artian sempit yang kurang pandai di sekolah, atau kurang pandai matematika dll.

Orang bodoh adalah orang yang tidak bijaksana, yang lebih senang mundur daripada maju dalam kebijaksanaan, dan tidak dapat dinasehati.

Banyak orang yang ketika mendengar ayat ini, lalu bertanya, kalau semua orang maunya bergaul dengan orang yang setara / lebih baik, lalu siapa yang akan menolong yang lebih bodoh? Bukannya ini namanya sombong dan pilih-pilih teman ? 

Tentu saja kita harus melihat kemampuan diri kita sendiri, jika kita sanggup menasehati dan bersabar, dan yang dinasehati mau berubah, ada keinginan untuk memperbaiki diri, maka adalah hal yang sangat baik untuk menolong orang-orang seperti ini.

Jika kita jauh lebih kuat dibandingkan kebodohan dia, mungkin kita bisa mengangkat dia dari kebodohan itu.
Tetapi jika dengan bergaulnya kita dengan orang bodoh, ternyata kita malah terseret oleh kebodohannya, sebaiknya janganlah bergaul dengan orang bodoh itu.

Ibarat hendak menolong orang yang tenggelam, kalau kemampuan renang kita kurang dan tidak tahu teknik yang tepat untuk menolong, bisa-bisa kita juga ikut tenggelam bersamanya.

Kisah Seorang Pemuda (Dhammapada 5 : 60)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(60) Malam terasa panjang bagi orang yang berjaga,
satu yojana terasa jauh bagi orang yang lelah;
sungguh panjang siklus kehidupan bagi orang bodoh
yang tak mengenal Ajaran Benar.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu hari Raja Pasenadi dari Kosala sedang berjalan-jalan di kota. Secara tidak sengaja beliau melihat seorang wanita muda berdiri dekat jendela rumahnya dan beliau langsung jatuh cinta. Raja mencoba untuk menemukan berbagai cara dan kesempatan untuk mendapatkannya. Setelah mengetahui bahwa wanita muda itu telah menikah, raja memanggil suami wanita muda tersebut dan dijadikan pelayan di istana.

Suatu ketika raja memerintahkan suami wanita muda itu untuk melakukan suatu pekerjaan yang sangat sulit. Pemuda itu diperintahkan untuk pergi ke suatu tempat, satu yojana (dua belas mil) jauhnya dari Savatthi, serta membawa pulang beberapa bunga teratai Kumuda dan sedikit tanah merah yang dikenal dengan nama Arunavati, tanahnya Naga, dan kembali ke Savatthi pada sore yang sama, pada waktu raja mandi.

Tujuan raja adalah untuk membunuh suami wanita muda tersebut jika ia gagal kembali pada waktu yang telah ditentukan, dan mengambil wanita muda itu sebagai istrinya.

Pemuda itu mengambil ransum makanan dari istrinya dengan tergesa-gesa, dan segera berangkat untuk melaksanakan perintah raja. Di perjalanan, pemuda itu membagi bekal makanannya kepada seorang pengembara.

Dia juga melemparkan sedikit nasi ke dalam air dan berteriak: "O, makhluk-makhluk penjaga dan naga-naga penghuni sungai ini! Raja Pasenadi telah menyuruhku untuk mengambil beberapa bunga teratai Kumuda dan tanah merah Arunavati untuk beliau. Hari ini aku telah membagi makananku dengan seorang pengembara; aku juga memberi makanan buat ikan-ikan di sungai; sekarang aku juga membagi manfaat perbuatan baikku yang telah aku lakukan hari ini denganmu. Berilah aku bunga teratai Kumuda dan tanah merah Arunavati".

Raja Naga mendengarnya. Dengan menyamar sebagai orang tua memberikan bunga teratai dan tanah merah yang diharapkan.

Sore hari Raja Pasenadi yang cemas seandainya pemuda tersebut datang kembali tepat pada waktunya telah memerintahkan untuk menutup gerbang kota lebih awal. Setelah mengetahui bahwa pintu gerbang kota telah ditutup maka pemuda tadi meletakkan tanah merah pada dinding kota dan menempelinya dengan bunga teratai.

Kemudian dia menyatakan dengan keras: "O, para warga kota! Jadilah saksiku! Hari ini aku telah memenuhi tugasku tepat pada waktunya seperti yang telah diperintahkan oleh raja. Raja Pasenadi, tanpa ada keadilan, merencanakan untuk membunuhku".

Setelah itu pemuda tadi menuju Vihara Jetavana untul mencari perlindungan dan menghibur dirinya di tempat yang penuh kedamaian tersebut.

Di lain pihak Raja Pasenadi yang digoda oleh nafsu seksualnya, tidak dapat tidur, dan terus memikirkan bagaimana menyingkirkan suami wanita muda itu dan memperistrinya. Tengah malam beliau mendengar suara-suara aneh; yang sesungguhnya merupakan suara-suara yang menyayat hati dari empat makhluk menderita di alam Lohakumbhi Niraya. Sang Raja sangat ketakutan mendengar suara-suara yang mengerikan tersebut. Keesokan paginya Raja Pasenadi mengunjungi Sang Buddha, seperti yang disarankan oleh Ratu Mallika.

Kemudian Sang Buddha menjelaskan tentang empat suara yang didengar raja pada malam hari, Beliau mengatakan bahwa suara-suara itu merupakan suara-suara empat makhluk, yang merupakan putra dari seorang hartawan yang hidup pada masa Buddha Kassapa, dan sekarang mereka menderita di Lohakumbhi Niraya sebab mereka telah melakukan perzinahan dengan istri-istri orang lain.

Raja akhirnya menyadari perbuatan buruk dan akibat yang akan diperoleh. Raja berjanji tidak akan menginginkan istri orang lain lagi.

"Kejadian itu sama dengan nafsu keinginanku untuk memiliki istri orang lain yang membuatku tersiksa dan tidak dapat tidur", pikir beliau.

Kemudian Raja Pasenadi mengatakan kepada Sang Buddha, "Bhante, sekarang saya menyadari bagaimana lamanya malam untuk seseorang yang tidak dapat tidur".

Pemuda tadi juga mengatakan, "Bhante, saya telah melakukan perjalanan penuh satu yojana kemarin, saya juga mengetahui bagaimana panjangnya satu yojana bagi seseorang yang lelah".

Sang Buddha kemudian membabarkan syair 60 dengan menggabungkan kedua pernyataan di atas seperti berikut ini:

Malam terasa panjang bagi orang yang berjaga,
satu yojana terasa jauh bagi orang yang lelah;
sungguh panjang siklus kehidupan bagi orang bodoh
yang tak mengenal Ajaran Benar.

Pemuda tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.***

Kisah Garahadinna (Dhammapada 4 : 58-59)

IV. Puppha Vagga - Bunga-bunga

(58) Seperti dari tumpukan sampah yang dibuang di tepi jalan,
tumbuh bunga teratai yang berbau harum dan menyenangkan hati.

(59) Begitu juga di antara orang di dunia,
siswa Sang Buddha Yang Maha Sempurna
bersinar menerangi dunia yang gelap ini
dengan kebijaksanaannya. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ada dua orang sahabat bernama Sirigutta dan Garahadinna tinggal di Savatthi. Sirigutta adalah seorang pengikut Buddha dan Garahadinna adalah pengikut Nigantha, pertapa yang memusuhi Sang Buddha.

Dalam hal berkaitan dengan Nigantha, Garahadinna sering kali berkata kepada Sirigutta, "Apa manfaat yang kamu dapatkan menjadi pengikut Buddha? Kemarilah, jadilah pengikut guruku".

Setelah berulang kali dibujuk, Sirigutta berkata kepada Garahadinna, "Katakan padaku, apa yang diketahui oleh gurumu?"

Garahadinna mengatakan bahwa gurunya dapat mengetahui masa lampau, saat ini, dan masa depan dan juga dapat membaca pikiran orang lain. Maka, Sirigutta mengundang Nigantha untuk datang ke rumahnya untuk menerima dana makanan.

Maka ia membuat sebuah parit yang dalam dan panjang dan dipenuhi dengan sampah dan kotoran. Tempat duduk untuk Nigantha dan murid-muridnya ditempatkan dengan sembarangan di atas parit. Belanga-belanga kotor dan besar dibawa masuk dan ditutup dengan kain dan daun-daun pisang agar kelihatan seolah-olah penuh dengan nasi dan kari.

Ketika pertapa-pertapa Nigantha tiba, mereka dipersilahkan untuk masuk satu persatu, untuk berdiri di dekat tempat duduk yang telah disiapkan, dan langsung dipersilahkan duduk. Ketika mereka telah duduk, penutup parit tadi pecah dan pertapa-pertapa Nigantha jatuh ke dalam parit yang kotor.

Kemudian Sirigutta bertanya kepada mereka, "Kenapa kamu tidak mengetahui masa lalu, saat ini dan masa depan? Mengapa kamu tidak tahu pikiran orang lain?" Semua pertapa-pertapa Nigantha merasa dijebak.

Garahadinna sangat marah kepada Sirigutta dan menolak untuk berbicara dengannya selama dua minggu. Kemudian, ia memutuskan bahwa ia akan membalas perlakuan Sirigutta. Karena itu, ia memutuskan untuk tidak marah lebih lama lagi.

Suatu hari ia menyuruh Sirigutta mengundang Sang Buddha dan lima ratus muridnya untuk berpindapatta. Maka Sirigutta menghadap Sang Buddha dan mengundangNya ke rumah Garahadinna. Ia mengatakan kepada Sang Buddha apa yang ia lakukan kepada pertapa-pertapa Nigantha, guru Garahadinna. Ia juga menunjukkan rasa takut bahwa undangan tersebut mungkin suatu jebakan.

Sang Buddha dengan kekuatan supranaturalNya, mengetahui bahwa akan merupakan suatu kesempatan bagi dua sahabat itu untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti. Dengan tersenyum Sang Buddha menyatakan undangan tersebut diterima.

Garahadinna membuat sebuah parit, dipenuhi dengan bara yang menyala dan ditutup dengan karpet. Dia juga meletakkan belanga-belanga kosong yang ditutup dengan kain dan daun-daun pisang agar kelihatannya penuh dengan nasi dan kari.

Keesokan harinya, Sang Buddha datang diikuti oleh lima ratus bhikkhu dalam satu rombongan. Ketika Sang Buddha melangkah di atas karpet yang menutupi arang yang menyala, karpet dan bara api tiba-tiba menghilang, dan lima ratus bunga teratai sebesar roda kereta, membentang untuk Sang Buddha dan murid-muridNya duduk.

Melihat keajaiban ini, Garahadinna sangat cemas dan dia mengatakan kepada Sirigutta: "Bantulah saya, teman. Bukan keinginan saya untuk membalas dendam. Saya telah melakukan perbuatan yang salah. Rencana buruk saya tidak ada yang berpengaruh terhadap gurumu. Periuk-periuk yang ada di dapur semuanya kosong. tolonglah saya".

Sirigutta kemudian berkata kepada Garahadinna untuk pergi dan melihat periuk-periuk tersebut. Ketika Garahadinna melihat ke dapur semua periuk-periuknya telah berisi makanan. Ia menjadi sangat kagum. Pada waktu yang sama juga menjadi sangat lega dan gembira. Makanan tersebut disajikan kepada Sang Buddha dan murid-muridNya.

Selesai makan, Sang Buddha menyatakan anumodana terhadap perbuatan baik itu dan beliau berkata, "Mereka yang tidak tahu, kurang pengetahuan, tidak mengetahui kualitas yang unik dari Sang Buddha, Dhamma, Sangha, mereka seperti orang buta. Tetapi orang bijaksana yang memiliki pengetahuan, seperti orang melihat".

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 58 dan 59 berikut ini:

Seperti dari tumpukan sampah yang dibuang di tepi jalan,
tumbuh bunga teratai yang berbau harum dan menyenangkan hati.

Begitu juga di antara orang di dunia,
siswa Sang Buddha Yang Maha Sempurna
bersinar menerangi dunia yang gelap ini
dengan kebijaksanaannya.

Ketika mendengarkan khotbah Sang Buddha, perlahan-lahan tubuh Garahadinna diliputi oleh kegembiraan dan kebahagiaan. Pada akhir khotbah, Sirigutta dan Garahadinna mencapai tingkat sotapatti.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"yathā saṃkāradhānasmiṃ ujjhitasmiṃ mahāpathe
padumaṃ tattha jāyetha sucigandhaṃ manoramaṃ

evaṃ saṃkārabhūtesu andhabhūte puthujjane
atirocati paññāya sammāsambuddhasāvako"

Seperti dari tumpukan sampah yang dibuang di tepi jalan,
tumbuh bunga teratai yang berbau harum dan menyenangkan hati.

Begitu juga di antara orang duniawi,
siswa Sang Buddha Yang Maha Sempurna,
bersinar menerangi dunia yang gelap ini dengan kebijaksanaannya.

Ketika mendengarkan khotbah Sang Buddha, perlahan-lahan tubuh Garahadinna diliputi oleh kegembiraan dan kebahagiaan. Pada akhir khotbah, Sirigutta dan Garahadinna mencapai tingkat sotapatti.

Keduanya memperbarui persahabatan mereka dan menjadi penyokong utama bagi Sang Buddha dan para bhikkhu. Mereka juga banyak berdana untuk kepentingan Dhamma.
Sekembalinya ke Vihara Jetavana, para bhikkhu menyatakan ketakjuban mereka mengenai teratai yang muncul dari parit yang dipenuhi arang. Sang Buddha menjawab, bahwa ini bukanlah yang pertama kalinya hal itu terjadi. Kemudian atas permintaan mereka, Sang Buddha kemudian menceritakan Khadirangara Jataka.
------

Notes :

Khadirangara Jataka; di salah satu kehidupannya yang lalu, Sang Bodhisatta adalah seorang bendaharawan, beliau hendak memberikan dana makanan kepada seorang Pacceka Buddha. Mara menghalangi niat itu dengan menciptakan parit besar berisi api menyala di antara bendaharawan dan Pacceka Buddha. Tetapi sang bendaharawan tsb dengan tekad yang kuat tetap melangkah menuju Pacceka Buddha untuk memberikan mangkuk berisi makanan. Ketika ia melangkahkan kaki, muncul bunga-bunga teratai besar menerima pijakan kakinya, hingga ia selamat mencapai sang Pacceka Buddha untuk menuangkan makanan ke mangkuk Pacceka Buddha tsb.

Kisah Godhika Thera (Dhammapada 4 : 57)

IV. Puppha Vagga - Bunga-bunga

(57) Mara tak dapat menemukan jejak mereka yang memiliki sila,
yang hidup tanpa kelengahan,
dan yang telah terbebas melalui Pengetahuan Sempurna.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Godhika Thera, pada suatu kesempatan, melatih meditasi ketenangan dan pandangan terang, di atas lempengan batu di kaki gunung Isigili di Magadha. Ketika beliau telah mencapai Jhana, beliau jatuh sakit; dan kondisi ini mempengaruhi latihannya. Dengan mengabaikan rasa sakitnya, dia tetap berlatih dengan keras; tetapi setiap kali beliau mencapai kemajuan beliau merasa kesakitan. Beliau mengalami hal ini sebanyak enam kali. Akhirnya, beliau memutuskan untuk berjuang keras hingga mencapai tingkat arahat, walaupun ia harus mati untuk itu.

Tanpa beristirahat beliau melanjutkan meditasinya dengan rajin. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dengan memilih perasaan sakit sebagai obyek meditasi, beliau memotong lehernya sendiri dengan pisau. Dengan berkonsentrasi terhadap rasa sakit, beliau dapat memusatkan pikirannya dan mencapai arahat, tepat sebelum beliau meninggal.

Ketika Mara mendengar bahwa Godhika Thera telah meninggal dunia, ia mencoba untuk menemukan di mana Godhika Thera tersebut dilahirkan tetapi gagal. Maka, dengan menyamar seperti laki-laki muda, Mara menghampiri Sang Buddha dan bertanya di mana Godhika Thera sekarang.

Sang Buddha menjawab, "Tidak ada manfaatnya bagi kamu untuk mengetahui Godhika Thera. Setelah terbebas dari kekotoran-kekotoran moral ia mencapai tingkat kesucian arahat. Seseorang seperti kamu, Mara, dengan seluruh kekuatanmu tidak akan dapat menemukan kemana para arahat pergi setelah meninggal dunia".

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Tesaṃ sampannasīlānaṃ appamādavihārinaṃ
sammadaññāvimuttānaṃ māro maggaṃ na vindati"

Mara tak dapat menemukan jejak mereka yang memiliki sila,
yang hidup tanpa kelengahan,
dan yang telah terbebas melalui Pengetahuan Sempurna.
-------------

Notes :
Sebagian besar pembaca akan bertanya-tanya, bunuh diri bolehkah ?

Tidak ada jawaban mutlak yes or no dalam kitab Tipitaka, dan banyak sekali pendapat pro dan kontra dalam berbagai artikel dan forum-forum mengenai hal ini. Tergantung situasi dan motivasi. Dalam cerita Jataka, Sang Bodhisatta (calon Buddha, sebelum lahir menjadi Pangeran Siddhartha) beberapa kali mengorbankan dirinya untuk makhluk lain. Juga beberapa Arahat sewaktu hendak meninggal mengkremasi tubuhnya sendiri; beliau-beliau duduk bermeditasi dan mengeluarkan api yang membakar tubuhnya.

Yang jelas, jangan ikut-ikutan bunuh diri gara-gara pernah baca Godhika Thera bunuh diri dan mencapai arahat!

Perlu kita ingat, beliau memang sudah dekat sekali dengan tujuannya, sudah 6 kali mencapai jhana, dan hanya terganggu karena penyakitnya yang parah.

Seperti yang kita ketahui dari notes sebelumnya, orang yang telah mencapai Jhana / meninggal dalam jhana, akan dilahirkan di alam Brahma. Sebagian pendapat menyatakan bahwa Godhika Thera bertujuan untuk meninggal saat ia masih mampu mencapai jhana agar dapat lahir kembali di alam brahma, tentunya dengan harapan untuk meneruskan usaha meditasinya yang tinggal sedikit lagi untuk mencapai arahat di alam brahma. Dan nampaknya beliau mampu menjaga pikirannya dengan baik, bahkan melampaui targetnya, dan meraih arahat.

Jangan dibandingkan dengan orang awam biasa yang kemungkinan besar waktu bunuh diri, yang ada di pikiran mereka adalah kebencian, keputus-asaan, ketakutan, dll yang negatif. Jika kita meninggal dunia dengan pikiran-pikiran seperti itu, akibatnya kita akan terseret menuju kelahiran di alam rendah.

Lagipula, kalau orang awam bunuh diri untuk menghindari sesuatu hal, tak ada jaminan dia tak akan menghadapi hal yang sama lagi di kehidupan yang mendatang. 

Kisah Mahakassapa Thera (Dhammapada 4 : 56)

IV. Puppha Vagga - Bunga-bunga 

(56) Tidaklah seberapa
harumnya bunga tagara dan kayu cendana;
tetapi harumnya mereka yang memiliki sila (kebajikan)
menyebar sampai ke surga.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah mencapai Nirodhasamapatti (pencerapan batin mendalam), Mahakassapa Thera memasuki suatu desa yang miskin di kota Rajagaha untuk berpindapatta. Beliau bermaksud untuk memberikan kesempatan bagi orang-orang miskin tersebut untuk memperoleh jasa baik sebagai hasil berdana kepada seseorang yang baru saja mencapai Nirodhasamapatti.

Sakka, raja para dewa, yang berharap mendapat kesempatan untuk berdana kepada Mahakassapa Thera menyamar sebagai tukang tenun yang sudah tua dan miskin dan datang ke Rajagaha dengan istrinya Sujata yang menyamar sebagai wanita tua.

Mahakassapa Thera berdiri di depan pintu rumah mereka. Tukang tenun yang sudah tua itu mengambil mangkuk dari Mahakassapa Thera dan mengisi mangkuk tersebut penuh dengan nasi dan kari, dan harumnya kari tersebut menyebar ke seluruh kota. Kejadian ini menyadarkan Mahakassapa Thera bahwa orang tersebut bukan manusia biasa. Dia menghampiri untuk meyakinkan bahwa orang tersebut adalah Sakka.

Sakka mengakui siapa dia sebenarnya dan menyatakan bahwa dia juga miskin sebab dia jarang mempunyai kesempatan untuk mendanakan sesuatu kepada seseorang selama masa kehidupan para Buddha. Setelah mengatakan hal tersebut, Sakka dan istrinya meninggalkan Mahakassapa Thera; setelah memberikan penghormatan kepadanya.

Sang Buddha, dari vihara tempat Beliau tinggal, mengetahui bahwa Sakka dan Sujata telah pergi dan mengatakan kepada para bhikkhu tentang dana makanan dari Sakka kepada Mahakassapa Thera. Para bhikkhu kagum bagaimana Sakka mengetahui bahwa Mahakassapa Thera baru mencapai Nirodhasamapatti, dan merupakan waktu yang sangat tepat dan bermanfaat baginya untuk berdana kepada Sang Thera.

Pertanyaan ini diajukan kepada Sang Buddha, dan Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu, kebajikan seseorang seperti putraKu, Mahakassapa Thera, menyebar luas dan jauh; bahkan mencapai alam dewa. Karena timbunan perbuatan baiknya, Sakka sendiri telah datang untuk berdana makanan kepadanya".

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Appamatto ayaṃ gandho yāyaṃ tagaracandanī
yo ca sīlavataṃ gandho vāti devesu uttamo."

Tidaklah seberapa,
harumnya bunga tagara dan kayu cendana;
tetapi harumnya mereka, yang memiliki sila (kebajikan),
menyebar sampai ke surga.

Kisah Pertanyaan Ananda (Dhammapada 4 : 54-55)

IV. Puppha Vagga - Bunga-bunga

(54) Harumnya bunga tak dapat melawan arah angin.
Begitu pula harumnya kayu cendana, bunga tagara dan melati.
Tetapi harumnya kebajikan dapat melawan arah angin;
harumnya kebajikan dapat menyebar ke segenap penjuru.

(55) Harumnya kebajikan adalah jauh melebihi harumnya kayu cendana,
bunga tagara, teratai biru maupun melati.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di suatu senja, Y.A. Ananda sedang duduk sendiri. Dalam pikiran beliau timbul masalah yang berkaitan dengan bau dan wangi-wangian. Ia berpikir: "Harumnya kayu, harumnya bunga-bunga, dan harumnya akar-akaran semuanya menyebar searah dengan arah angin, tetapi tidak bisa berlawanan dengan arah angin. Apakah tidak ada wangi-wangian yang dapat melawan arah angin? Apakah tidak ada wangi-wangian yang dapat merebak ke seluruh dunia?"

Tanpa menjawab pertanyaannya sendiri, Y.A. Ananda menghampiri Sang Buddha dan bertanya kepada-Nya.

Sang Buddha mengatakan, "Ananda, misalnya, ada seseorang yang berlindung terhadap Tiga Permata (Buddha, Dhamma, Sangha), yang melaksanakan lima latihan sila, yang murah hati dan tidak kikir, orang seperti itu sungguh bijaksana dan layak memperoleh pujian. Kebajikan orang tersebut akan menyebar jauh dan luas, dan para bhikkhu, brahmana dan perumah tangga akan menghormatinya di manapun ia tinggal.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"na pupphagandho paṭivātam eti
na candanaṃ tagaramallikā vā
satañ ca gandho paṭivātam eti
sabbā disā sappuriso pavāti

candanaṃ tagaraṃ vāpi uppalaṃ atha vassikī
etesaṃ gandhajātānaṃ sīlagandho anuttaro"

Harumnya bunga tidak dapat melawan arah angin.
begitu pula harumnya kayu cendana, bunga tagara dan melati.
tetapi harumnya kebajikan dapat melawan arah angin;
harumnya kebajikan menyebar ke segenap penjuru.

Kayu cendana, bunga tagara,
teratai biru dan juga melati
di antara wewangian-wewangian ini
tak ada yang dapat melebihi harumnya kebajikan.

Kisah Visakha (Dhammapada 4 : 53)

 IV. Puppha Vagga - Bunga-bunga

(53) Seperti dari tumpukan bunga-bunga 
dapat dibuat banyak karangan bunga;
demikian pula banyak kebajikan
hendaknya dilakukan oleh manusia
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seorang hartawan dari Bhaddiya bernama Danancaya, dari istrinya Sumanadevi mempunyai puteri yang dinamai Visakha. Visakha juga merupakan cucu dari Mendaka, salah satu dari lima hartawan yang ada di wilayah kerajaan Raja Bimbisara. Ketika Visakha berusia tujuh tahun, Sang Buddha berkunjung ke Bhaddiya.

Pada suatu kesempatan hartawan Mendaka mengajak Visakha dan lima ratus pengiringnya untuk memberikan penghormatan pada Sang Buddha. Setelah mendengar khotbah Sang Buddha, Visakha, kakeknya dan semua lima ratus pengawalnya mencapai tingkat kesucian Sotapatti.

Ketika Visakha dewasa, dia menikah dengan Punnavaddhana, putera Migara, seorang hartawan dari Savatthi. Suatu hari, ketika Migara sedang makan siang, seorang bhikkhu berhenti untuk berpindapatta di rumah orang tersebut; tetapi Migara tidak menghiraukan bhikkhu tersebut.

Visakha melihat hal ini, kemudian berkata kepada bhikkhu tersebut: "Maafkan saya, teruslah berjalan bhante, ayah mertua saya hanya makan makanan basi."

Mendengar hal itu Migara menjadi sangat marah dan menyuruhnya untuk pergi. Tetapi Visakha mengatakan bahwa ia tidak akan pergi, dan dia akan memanggil delapan wali yang dikirim oleh ayahnya untuk menemaninya dan menasehatinya. Wali-wali tersebut akan memutuskan apakah Visakha bersalah atau tidak bersalah.

Ketika para wali telah berkumpul, Migara berkata : "Ketika saya sedang makan nasi dan susu dengan mangkuk emas, Visakha mengatakan bahwa saya hanya makan makanan kotor dan basi. Untuk kesalahan itu saya akan mengirimnya pulang."

Kemudian Visakha menjelaskan sebagai berikut: "Ketika saya melihat ayah mertua saya tidak menghiraukan seorang bhikkhu yang berdiri berpindapatta, saya berpikir bahwa ayah mertua saya tidak melakukan perbuatan baik pada kehidupan saat ini, beliau hanya makan dari hasil perbuatan baiknya yang lampau. Maka, saya mengatakan, ayah mertua saya hanya makan makanan basi. Sekarang tuan-tuan, apa pendapat anda, apakah saya bersalah?" Para wali memutuskan bahwa Visakha tidak bersalah.

Visakha kemudian mengatakan bahwa dia adalah seseorang yang memiliki keyakinan yang mutlak dan tak tergoyahkan dalam ajaran Sang Buddha, dan tak bisa tinggal di rumah dimana kehadiran para bhikkhus tidak disambut dengan baik. Juga, apabila dia tidak diizinkan untuk mengundang para bhikkhu untuk menerima dana makanan dan persembahan lainnya, dia akan meninggalkan rumah. Akhirnya Visakha memperoleh izin untuk mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu untuk ke rumahnya.

Keesokan harinya Sang Buddha dan murid-muridNya diundang ke rumah Visakha. Ketika dana makanan telah disajikan, Visakha mengundang ayah mertuanya untuk bersama-sama mendanakan makanan tersebut. Tetapi ayah mertuanya tidak mau datang. Setelah makan siang berakhir, sekali lagi dia mengundang ayah mertuanya, kali ini dengan pesan agar ayah mertuanya untuk datang ikut mendengarkan yang akan segera diberikan oleh Sang Buddha. Ayah mertuanya merasa bahwa tidak seharusnya dia menolak untuk kedua kalinya. Tetapi, gurunya, pertapa Nigantha, tidak mengizinkan dia pergi, namun akhirnya mengijinkan ia untuk mendengarkan dari balik tirai. Setelah mendengar khotbah Sang Buddha, Migara mencapai tingkat kesucian Sotapatti. Dia sangat berterima kasih kepada Sang Buddha dan juga menantunya.

Sebagai bentuk rasa terima kasihnya, dia menyatakan bahwa mulai sekarang Visakha akan menjadi ibunya, dan Visakha kemudian dikenal sebagai Migaramata.

Visakha mempunyai sepuluh anak laki-laki dan sepuluh anak perempuan, dan masing-masing anak mempunyai sepuluh anak laki-laki dan sepuluh anak perempuan.

Visakha memiliki sebuah perhiasan yang dihiasi dengan permata-permata yang mahal harganya, pemberian ayahnya pada hari pernikahannya. Suatu hari Visakha pergi ke Vihara Jetavana bersama para pengikutnya. Saat tiba di vihara, dia merasa bahwa perhiasannya sangat berat. Maka, ia melepaskan perhiasannya dan membungkusnya dengan selendang, memberikan kepada pelayannya untuk dibawa dan dijaganya. Ternyata pelayan tersebut lupa ketika mereka meninggalkan vihara. Sudah menjadi kebiasaan Y.A. Ananda menyimpan barang-barang yang ditinggalkan umat.

Visakha mengirim kembali pelayannya ke vihara: "Pergi dan lihatlah perhiasan permata itu, tetapi jika Y.A. Ananda telah menemukan dan menyimpannya di suatu tempat, jangan bawa pulang kembali; saya mendanakan perhiasan permata itu kepada Y.A. Ananda." Tetapi Y.A. Ananda tidak mau menerima dana tersebut.
Maka Visakha memutuskan untuk menjual perhiasan tersebut dan kemudian akan mendanakan hasil penjualannya. Tetapi tidak seorang pun yang mampu membeli perhiasan tersebut. Akhirnya Visakha membelinya sendiri seharga sembilan score dan satu lakh. Dengan uang tersebut ia membangun sebuah vihara di bagian timur kota: Vihara ini dikenal dengan nama Pubbarama.

Setelah upacara pelimpahan jasa ia mengundang seluruh keluarganya dan mengatakan kepada mereka bahwa semua keinginannya telah terpenuhi dan ia tidak lagi mempunyai keinginan. Kemudian sambil melantunkan lima syair kegembiraan ia berputar mengelilingi vihara.

Beberapa bhikkhu mendengarnya. Mereka berpikir bahwa kelakuan Visakha sangat berlebihan. Maka mereka melaporkan kepada Sang Buddha bahwa Visakha tidak seperti sebelumnya berkeliling vihara sambil menyanyi. Para bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha: "Apakah itu berarti Visakha kehilangan akal sehatnya?"

Sang Buddha menjawab, "Hari ini, Visakha telah memenuhi keinginan masa lampau dan masa saat ini, dan karena keberhasilan tersebut, ia merasa gembira dan puas. Visakha hanya melantunkan syair-syair kegembiraan, yang pasti ia tidak kehilangan akal sehatnya. Visakha, pada kehidupan lampau selalu menjadi seorang donatur yang murah hati dan bersemangat mendukung ajaran-ajaran para Buddha. Ia juga berkecenderungan kuat melakukan perbuatan-perbuatan baik dan telah melakukan banyak kebajikan pada kehidupan lampaunya, seperti seorang perangkai bunga yang telah banyak membuat rangkaian bunga dari tumpukan bunga-bunga.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"yathāpi puppharāsimhā kayirā mālāguṇe bahū
evaṃ jātena maccena kattabbaṃ kusalaṃ bahuṃ."

Seperti dari tumpukan bunga-bunga
dapat dibuat banyak karangan bunga;
demikian pula banyak kebajikan
hendaknya dilakukan oleh manusia.

Kisah Chattapani, Seorang Umat Awam (Dhammapada 4 : 51-52)

IV. Puppha Vagga - Bunga-bunga 

(51) Bagaikan sekuntum bunga yang indah
tetapi tidak berbau harum;
demikian pula kata-kata mutiara
tidak berguna bagi orang yang tidak melaksanakannya.

(52) Bagaikan sekuntum bunga yang indah 
serta berbau harum;
demikian pula kata-kata mutiara
bermanfaat bagi orang yang melaksanakannya
------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

Seorang umat awam bernama Chattapani yang merupakan seorang Anagami tinggal di Savatthi. Pada suatu kesempatan, Chattapani menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana mendengarkan khotbah Dhamma dengan penuh hormat dan penuh perhatian.

Ketika itu Raja Pasenadi juga sedang mengunjungi Sang Buddha. Chattapani tidak berdiri sebab dia berpikir bahwa berdiri berarti dia memberikan hormat kepada raja bukan kepada Sang Buddha. Raja menganggap hal ini adalah suatu penghinaan dan merasa sangat tersinggung. Sang Buddha mengetahui pemikiran Raja Pasenadi; maka Beliau memuji Chattapani, yang sangat baik dalam Dhamma dan juga telah mencapai tingkat kesucian Anagami.

Mendengar hal ini, Raja Pasenadi sangat terpesona dan memberikan penghormatan kepada Chattapani.

Pada pertemuan berikutnya, raja bertemu dengan Chattapani dan berkata, "Anda sangat pandai; dapatkah anda datang ke istana dan memberikan pelajaran Dhamma kepada dua orang istriku?" Chattapani menolak tetapi beliau menyarankan untuk meminta izin kepada Sang Buddha agar menugaskan seorang bhikkhu untuk memberikan pelajaran Dhamma. Raja menghampiri Sang Buddha dan menceritakan maksudnya. Sang Buddha memerintahkan Ananda untuk memberikan pelajaran Dhamma secara teratur kepada Ratu Mallika dan Ratu Vasabhakhattiya di istana.

Setelah beberapa waktu, Sang Buddha bertanya kepada Ananda tentang kemajuan dari kedua orang ratu tersebut. Ananda menjawab bahwa Ratu Mallika mendengarkan Dhamma dengan sungguh-sungguh sedangkan Vasabhakhattiya tidak sungguh-sungguh belajar Dhamma. Mendengar ini Sang Buddha berkata bahwa Dhamma akan memberikan manfaat bagi seseorang yang mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, penuh hormat, dan penuh perhatian serta rajin mempraktekkan apa yang telah dipelajari.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

Yathā’pi ruciraṃ pupphaṃ
vaṇṇavantaṃ agandhakaṃ
evaṃ subhāsitā vācā
aphalā hoti akubbato

Yathā’pi ruciraṃ pupphaṃ
vaṇṇavantaṃ sagandhakaṃ
evaṃ subhāsitā vācā
saphalā hoti sakubbato

Bagaikan sekuntum bunga yang indah
tetapi tidak berbau harum;
demikian pula kata-kata mutiara
tidak berguna bagi orang yang tidak melaksanakannya.

Bagaikan sekuntum bunga yang indah
serta berbau harum;
demikian pula kata-kata mutiara
bermanfaat bagi orang yang melaksanakannya

Kisah Petapa Paveyya (Dhammapada 4 : 50)

IV. Puppha Vagga - Bunga-bunga

(50) Janganlah memperhatikan kesalahan
dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh orang lain.
Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan
dan apa yang belum dikerjakan oleh diri sendiri.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seorang wanita kaya berasal dari Savatthi telah mengangkat Paveyya, seorang pertapa, sebagai seorang anak dan memenuhi semua kebutuhannya. Ketika dia mendengar tetangganya memuji Sang Buddha, dia sangat berharap dapat mengundang Beliau ke rumahnya untuk menerima dana makanan. Maka, Sang Buddha diundang ke rumah wanita kaya tersebut dan makanan terpilih telah disiapkan.

Ketika Sang Buddha sedang menyampaikan anumodana, Paveyya, yang berada di ruang sebelah, menjadi sangat murka. Dia menyalahkan dan mengutuk wanita tersebut karena menghormati Sang Buddha. Wanita tersebut mendengar kutukan serta teriakannya, menjadi sangat malu sehingga dia tidak dapat berkonsentrasi terhadap apa yang disampaikan oleh Sang Buddha. Sang Budha berkata kepada wanita itu agar tidak usah memperhatikan kutukan-kutukan dan perlakuan tersebut, tetapi perhatikan saja perbuatan baik dan perbutan buruk yang dilakukan oleh dirinya sendiri.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"na paresaṃ vilomāni, na paresaṃ katākataṃ
attano va avekkheyya katāni akatāni ca”

Janganlah memperhatikan kesalahan dan
hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh orang lain.
Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan
dan apa yang belum dikerjakan oleh diri sendiri.

Wanita kaya tersebut mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Kisah Kosiya, Orang Kaya yang Kikir (Dhammapada 4 : 49)


IV. Puppha Vagga - Bunga-bunga


(49) Bagaikan seekor kumbang mengumpulkan madu dari bunga-bunga
tanpa merusak warna maupun baunya;
demikian pula hendaknya orang bijaksana
mengembara dari desa ke desa.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------



Di desa Sakkara, dekat Rajagaha, tinggallah orang yang sangat kaya tapi kikir, bernama Kosiya. Dia tidak suka memberikan sesuatu miliknya meskipun hanya sebagian kecil. Suatu hari, supaya tidak perlu berbagi dengan orang lain, orang kaya dan istrinya tersebut membuat roti di bagian atas rumahnya di tempat yang tidak seorang pun dapat melihat.

Suatu pagi, Sang Buddha dengan kekuatan Dibbacakkhu-Nya*, melihat orang kaya tersebut dan istrinya. Beliau mengetahui bahwa mereka akan dapat mencapai tingkat kesucian Sotapatti. Maka Sang Buddha mengirim murid utamaNya, yaitu Maha Moggallana ke rumah orang kaya tesebut dengan petunjuk untuk membawa mereka ke Vihara Jetavana pada saat makan siang.

Murid utama, Maha Moggallana, dengan kekuatan batin luar biasanya, segera sampai di rumah Kosiya dan berdiri di jendela. Orang kaya tersebut melihat dan menyuruhnya pergi, Yang Ariya Maha Moggallana hanya berdiri di jendela tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Akhirnya, Kosiya berkata pada istrinya : " Buatkan roti yang sangat kecil dan berikan pada bhikkhu tersebut." Istrinya hanya mengambil sedikit adonan dan meletakkannya di panggangan roti, dan roti tersebut mengembang memenuhi panggangan. Kosiya berpikir bahwa pasti istrinya menaruh adonan terlalu banyak, maka dia hanya mengambil sedikit sekali adonan dan meletakkan di panggangan. Roti tersebut juga mengembang menjadi sangat besar. Hal ini terulang terus menerus, meskipun mereka hanya meletakkan sedikit adonan dalam panggangan, mereka tidak berhasil membuat roti yang kecil.

Akhirnya, Kosiya menyuruh istrinya untuk mendanakan satu roti dari keranjang tersebut kepada Maha Moggallana. Ketika istrinya mencoba untuk mengeluarkan sebuah roti dari keranjang, roti tersebut tidak dapat lepas karena telah lengket menjadi satu dan tidak dapat dipisahkan. Akhirnya Kosiya kehilangan semua seleranya untuk menikmati roti tersebut dan menawarkan seluruh keranjang roti kepada Maha Moggallana. Murid utama Sang Buddha kemudian menyampaikan khotbah tentang kemurahan hati kepada orang kaya kikir beserta istrinya. Beliau juga menyampaikan bahwa Sang Buddha telah menunggu mereka dengan lima ratus bhikkhu di Vihara Jetavana, di Savatthi, 45 yojana dari Rajagaha.

Maha Moggallana, dengan kekuatan batin luar biasanya, membawa Kosiya dan istrinya sekaligus keranjang roti tersebut, untuk menghadap Sang Buddha. Di sana mereka mendanakan roti tersebut kepada Sang Buddha dan lima ratus bhikkhu. Selesai makan, Sang Buddha menyampaikan khotbah mengenai kemurahan hati, dan Kosiya beserta istrinya mencapai tingkat kesucian Sotapatti.

Keesokan sore harinya, ketika para bhikkhu bercakap-cakap dan memuji Maha Moggallana, Sang Buddha menghampiri mereka dan berkata, "Para bhikkhu, seharusnya kamu juga berdiam dan berkelakuan di desa seperti Maha Moggallana, menerima pemberian dari penduduk desa tanpa mengurangi keyakinan dan kemurahan hati mereka, atau sejahteraan mereka."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

“yathā’pi bhamaro pupphaṃ
vaṇṇagandhaṃ aheṭhayaṃ
paleti rasam ādāya
evaṃ gāme munī care”

Bagaikan seekor kumbang mengumpulkan madu dari bunga-bunga
tanpa merusak warna dan baunya;
demikian pula hendaknya orang bijaksana
mengembara dari desa ke desa.
--------

Notes :
* Dibbacakkhu : (cakkhu = mata , dibba = divine) Mata batin/mata dewa/mata super); kemampuan untuk melihat alam-alam halus dan kesanggupan melihat muncul lenyapnya makhluk-makhluk yang bertumimbal lahir sesuai dengan kammanya masing-masing, dll.
Setiap pagi Sang Buddha akan melihat ke segala penjuru dengan dibbacakkhuNya, apakah ada yang memiliki potensi untuk mencapai kesucian hari itu dan butuh pertolongan ?

Kisah Patipujika Kumari (Dhammapada 4 : 48)


IV. Puppha Vagga - Bunga-bunga


(48) Orang yang mengumpulkan bunga-bunga kesenangan indria,
yang pikirannya melekat padanya 
sebelum terpuaskan dalam nafsu kenikmatan indria,
kematian telah menguasainya
-------------------------------------------------------------------------------------------------------



Patipujika Kumari adalah seorang wanita dari Savatthi. Dia menikah pada usia 16 tahun dan mempunyai empat orang putra. Patipujika Kumari merupakan seorang wanita yang baik budi dan murah hati, suka memberikan dana makanan dan kebutuhan lain kepada para bhikkhu. Dia juga sering pergi ke vihara dan membersihkan halaman, mengisi tempat air, dan memberikan bantuan lainnya.

Patipujika juga mempunyai kemampuan "Jatissara", yaitu kemampuan batin untuk mengingat kehidupannya yang lampau dimana dia adalah salah seorang istri Malabhari, yang tinggal di alam dewa Tavatimsa. Dia juga ingat bahwa dia telah meninggal dunia di Tavatimsa ketika mereka para dewa dewi sedang berjalan-jalan dan menikmati kesenangan di taman, dan memetik bunga-bunga.

Maka, setiap saat dia berdana kepada para bhikkhu atau melakukan perbuatan-perbuatan baik lainnya, dia berharap dapat dilahirkan kembali di alam dewa Tavatimsa sebagai istri Malabhari, suaminya terdahulu.

Suatu hari, Patipujika jatuh sakit dan meninggal dunia pada sore itu juga. Seperti apa yang dia inginkan, dia dilahirkan kembali di alam dewa Tavatimsa sebagai istri Malabhari. Seratus tahun di alam manusia sama dengan satu hari di alam Tavatimsa, Malabhari dan istri-istrinya yang lain masih bermain-main di taman; dan kepergian Patipujika hampir tidak dirasakan oleh mereka. Maka, ketika dia kembali bergabung dengan mereka, Malabhari menanyakan ke mana Patipujika pagi hari tadi. Dia kemudian menceritakan kematiannya di alam Tavatimsa dan kelahirannya kembali di alam manusia. Pernikahannya dengan seorang manusia dan juga tentang bagaimana dia telah mempunyai empat orang putra. Kematiannya di alam manusia dan lahir kembali di alam Tavatimsa.

Ketika para bhikkhu mendengar kematian Patipujika, mereka bersedih. Kemudian mereka menghadap Sang Buddha dan melaporkan kematian Patipujika, orang yang sering memberikan dana makanan pada pagi hari, telah meninggal pada sore hari.

Sang Buddha menjawab bahwa kehidupan suatu makhluk sangat singkat; dan sebelum mereka puas dengan kesenangan-kesenangan indrianya, kematian telah menguasainya.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

“pupphāni h’eva pacinantaṃ vyāsattamanasaṃ naraṃ
atittaṃ yeva kāmesu antako kurute vasaṃ”

Orang yang mengumpulkan bunga-bunga kesenangan indria,
yang pikirannya melekat padanya
sebelum terpuaskan dalam nafsu kenikmatan indria,
kematian telah menguasainya.

Kisah Vidudabha (Dhammapada 4 : 47)


IV. Puppha Vagga - Bunga-bunga


(47) Orang yang mengumpulkan bunga-bunga kesenangan indria,
yang pikirannya melekat pada kesenangan indria itu
akan diseret oleh kematian,
bagaikan banjir besar menghanyutkan sebuah desa yang tertidur.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------



Raja Pasenadi dari Kosala, yang berharap dapat menikah dengan seorang putri dari suku Sakya, mengirimkan beberapa utusan ke Kapilavatthu dengan suatu permohonan meminang salah seorang putri suku Sakya.

Tidak ingin menghina Raja Pasenadi dengan penolakan, pangeran suku Sakya mengatakan bahwa mereka akan memenuhi permintaan tersebut, tetapi mereka tidak mengirimkan seorang putri, melainkan seorang gadis cantik yang lahir dari Raja Mahanama dengan seorang budak wanita. Raja Pasenadi mengangkat gadis tersebut sebagai permaisuri, kemudian berputera dan diberi nama Vidudabha.

Ketika sang pengeran berusia 16 tahun, Raja Pasenadi mengirimnya untuk mengunjungi Raja Mahanama dan pangeran-pangera suku Sakya. Di sana sang pangeran diterima dengan ramah. Tetapi semua pangeran suku Sakya yang lebih muda dari Vidudabha telah pergi ke suatu desa, sehingga mereka tidak perlu memberikan penghormatan kepada Vidudabha.

Setelah tinggal selama beberapa hari di Kapilavatthu, Vidudabha dan rombongannya berniat untuk pulang. Segera setelah sang pangeran dan rombongannya pergi, seorang budak wanita mencuci tempat-tempat dimana Vidudabha duduk dengan susu. Dia juga mengutuk sambil berteriak: "Ini adalah tempat dimana putra seorang budak telah duduk,.....".

Waktu itu, salah seorang pengikut Vidudabha kembali untuk mengambil barang yang tertinggal, dan kebetulan mendengar apa yang diucapkan oleh gadis itu. Budak wanita itu juga mengatakan bahwa ibu Vidudabha, Vasabhakhattiya, adalah putri dari seorang budak wanita milik Mahanama.

Ketika Vidudabha diberi tahu tentang kejadian tersebut, dia menjadi sangat marah dan mengatakan bahwa suatu hari dia akan menghancurkan semua suku Sakya. Untuk membuktikan ucapannya, ketika Vidudabha menjadi raja, dia menyerbu dan membunuh semua suku Sakya, terkecuali beberapa orang yang bersama Mahanama.

Dalam perjalanan pulang, Vidudabha dan pasukannya berkemah di muara Sungai Aciravati. Akibat hujan turun dengan lebatnya di kota bagian atas pada malam yang gelap itu, sungai meluap dan mengalir ke bawah dengan derasnya menghanyutkan Vidudabha dan pasukannya ke samudera.

Mendengar dua kejadian tragis ini, Sang Buddha menerangkan kepada para bhikkhu bahwa saudara-saudaranya, pangeran-pangeran suku Sakya, pada kehidupan mereka sebelumnya, mereka menaruh racun ke dalam sungai untuk membunuh ikan-ikan. Kematian para pangeran suku Sakya dalam suatu pembantaian massal merupakan buah dari perbuatan yang telah mereka lakukan pada kehidupan sebelumnya.

Berkaitan dengan kejadian yang menimpa Vidudabha dan pasukannya, Sang Buddha mengatakan: "Bagaikan banjir besar menghanyutkan penduduk desa pada sebuah desa yang tertidur, demikian juga, kematian menghanyutkan semua makhluk yang melekat pada nafsu keinginan"

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"pupphāni h’eva pacinantaṃ
vyāsattamānasaṃ naraṃ
suttaṃ gāmaṃ mahogho va
maccu ādāya gacchati"

Orang yang mengumpulkan bunga-bunga kesenangan indria,
yang pikirannya melekat pada kesenangan indria itu
akan diseret oleh kematian,
bagaikan banjir besar menghanyutkan sebuah desa yang tertidur.

----------
Notes :

* Bersama Ratu Mallika, Raja Pasenadi mempunyai seorang puteri, yaitu Vajiri, dan kemudian bersama dengan Ratu Vasabha ia mempunyai putera yaitu Vidudabha