-->

Saturday, November 2, 2013

Kisah Sumana, Penjual Bunga (Dhammapada 5 : 68)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(68) Bila suatu perbuatan setelah selesai dilakukan
tidak membuat seseorang menyesal, 
maka perbuatan itu adalah baik. 
Orang itu akan menerima buah perbuatannya 
dengan hati gembira dan puas.
------------------------------------------------------------------------------------------------

Seorang penjual bunga, bernama Sumana, harus mengirimkan bunga melati kepada Raja Bimbisara dari Rajagaha setiap pagi. Suatu hari, ketika ia akan pergi ke istana, ia melihat Sang Buddha, dengan pancaran sinar aura sangat terang, datang ke kota untuk berpindapatta dengan diikuti oleh beberapa bhikkhu.

Melihat Sang Buddha yang sangat agung, penjual bunga Sumana sangat ingin mendanakan bunganya kepada Sang Buddha. Saat itu juga, ia memutuskan bahwa meskipun raja akan mengusirnya dari kota atau membunuhnya, ia tidak akan memberikan bunganya kepada raja pada hari itu.

Kemudian ia melemparkan bunganya ke samping, ke belakang, ke atas dan di atas kepala Sang Buddha. Bunga-bunga itu menggantung di udara; yang di atas kepala Sang Buddha membentuk tudung dari bunga-bunga, yang di belakang dan di sisi-sisi Beliau membentuk seperti dinding. Bunga-bunga ini terus mengikuti Sang Buddha kemana saja Beliau berjalan, dan ikut berhenti ketika Beliau berhenti.

Ketika Sang Buddha berjalan, dikelilingi oleh dinding bunga, dan dipayungi tudung bunga, dengan sinar enam warna yang memancar dari tubuhnya, diikuti oleh kelompok besar, ribuan orang dari dalam maupun dari luar kota Rajagaha. Mereka keluar dari rumahnya dan memberi hormat kepada Sang Buddha. Bagi Sumana sendiri, seluruh tubuhnya diliputi dengan kegiuran batin (piti).

Istri Sumana kemudian menghadap raja dan berkata bahwa ia tidak ikut campur dalam kesalahan suaminya, karena suaminya tidak mengirim bunga kepada raja hari ini. Raja yang telah mencapai tingkat kesucian sotapatti, merasa sangat berbahagia. Ia keluar istana untuk melihat pemandangan yang menakjubkan itu dan memberikan hormat kepada Sang Buddha.

Raja juga mengambil kesempatan untuk memberikan dana makanan kepada Sang Buddha dan murid-muridnya. Setelah makan siang, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana dan raja mengikutinya sampai beberapa jauh.

Dalam perjalanan pulang, Raja memanggil Sumana dan memberikan penghargaan kepadanya yang berupa delapan ekor kuda, delapan orang budak laki-laki, delapan orang budak wanita, delapan orang anak gadis, dan uang delapan ribu.

Di Vihara Jetavana, Y.A. Ananda bertanya kepada Sang Buddha apa manfaat yang akan diperoleh Sumana dari perbuatan baik yang telah dilakukannya pada pagi hari itu. Sang Buddha menjawab bahwa Sumana, yang telah memberikan dana kepada Sang Buddha tanpa memikirkan hidupnya, tidak akan dilahirkan di empat alam yang menyedihkan (Apaya) untuk beratus-ratus ribu kehidupan yang akan datang. Dan ia akan menjadi seorang Pacceka Buddha. Setelah itu, Sang Buddha memasuki Gandhakuti, dan bunga-bunga itu jatuh dengan sendirinya.

Malam harinya, pada akhir khotbah rutin, Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Tañ-ca kammaṃ kataṃ sādhu yaṃ katvā nānutappati
yassa patīto sumano vipākaṃ paṭisevati."

Bila suatu perbuatan setelah selesai dilakukan
tidak membuat seseorang menyesal,
maka perbuatan itu adalah baik
Orang itu akan menerima buah perbuatannya
dengan hati gembira dan puas.

Kisah Seorang Petani (Dhammapada 5 : 67)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(67) Bilamana suatu perbuatan setelah selesai dilakukan
membuat seseorang menyesal, 
maka perbuatan itu tidak baik. 
Orang itu akan menerima akibat perbuatannya 
dengan ratap tangis dan wajah yang berlinang air mata.
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu hari beberapa pencuri setelah mencuri benda-benda berharga dan sejumlah uang dari rumah orang kaya, melarikan diri ke suatu ladang. Di sana mereka membagi hasil curian dan kemudian berpisah. Tetapi sebuah bungkusan yang berisi uang yang berjumlah banyak terjatuh dari salah seorang pencuri, dan tertinggal di belakang tanpa ada yang memperhatikan.

Keesokan paginya Sang Buddha yang sedang mengamati dunia dengan kemampuan dibbacakkhuNya (penglihatan supranatural), melihat bahwa seorang petani yang sedang bekerja dekat ladang tersebut, dapat mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Segera Sang Buddha pergi ke sana, ditemani oleh Y.A. Ananda. Petani tersebut ketika melihat Sang Buddha memberi hormat, kemudian melanjutkan kembali membajak sawah.

Sang Buddha melihat bungkusan uang tersebut dan berkata, "Ananda, lihatlah seekor ular yang sangat berbisa." Ananda menjawab, "Ya, Bhante, itu benar-benar seekor ular yang sangat berbisa!" Kemudian Sang Buddha dan Ananda melanjutkan perjalanannya.

Petani itu, mendengar percakapan mereka, lalu pergi mencari apakah benar ada seekor ular, dan menemukan bungkusan uang itu. Ia mengambil bungkusan itu dan menyembunyikannya di suatu tempat.

Pemilik barang yang dicuri tersebut mengikuti jejak para pencuri dan sampai di ladang itu. Menelusuri jejak kaki petani tersebut, ia menemukan bungkusan uang tadi. Mereka memukuli petani itu dan membawanya menghadap raja, yang kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk membunuh petani itu.

Ketika dibawa ke pemakaman, tempat ia akan dibunuh, petani itu mengulang-ulang percakapan itu: "Ananda, lihatlah ada seekor ular yang sangat berbisa. Bhante, saya melihat ular; sungguh-sungguh seekor ular yang sangat berbisa!"

Ketika pegawai-pegawau raja mendengar percakapan antara Sang Buddha dan Ananda diulang-ulang sepanjang perjalanan, mereka kebingungan, dan membawanya menghadap Raja. Raja menyangka bahwa petani itu meminta Sang Buddha untuk dijadikan saksi; akhirnya petani tersebut dibawa kehadapan Sang Buddha.

Setelah mendengar semua yang terjadi pagi hari itu dari Sang Buddha, raja mengatakan, "Jika saja ia tidak berhasil meminta Sang Buddha menjadi saksi atas ketidakbersalahannya, orang ini telah mati dibunuh."

Kepadanya, Sang Buddha menjawab, "Orang bijaksana seharusnya tidak melakukan sesuatu yang akan membuatnya menyesal setelah melakukannya."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Na taṃ kammaṃ kataṃ sādhu yaṃ katvā anutappati
yassa assumukho rodaṃ vipākaṃ paṭisevati."

Bilamana suatu perbuatan setelah selesai dilakukan
membuat seseorang menyesal,
maka perbuatan itu tidak baik.
Orang itu akan menerima akibat perbuatannya
dengan ratap tangis dan wajah yang berlinang air mata.

Petani tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Kisah Suppabuddha, Si Penderita Kusta (Dhammapada 5 : 66)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(66) Orang bodoh yang dangkal pengetahuannya, 
memperlakukan diri sendiri seperti musuh; 
ia melakukan perbuatan jahat 
yang akan menghasilkan buah yang pahit.
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suppabuddha, penderita kusta, suatu ketika duduk di bagian belakang kumpulan orang dan mendengarkan dengan penuh perhatian khotbah yang disampaikan oleh Sang Buddha, mencapai tingkat kesucian sotapatti. Ketika kerumunan orang tersebut sudah membubarkan diri, ia mengikuti Sang Buddha ke vihara. Ia berharap dapat memberitahukan kepada Sang Buddha tentang pencapaiannya.

Sakka, raja para dewa, berkeinginan untuk menguji keyakinan orang kusta tersebut kepada Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha, menampakkan dirinya dan berkata: "Kamu hanya seorang miskin, hidup dari meminta-minta, tanpa seorang pun tempat bersandar. Saya dapat memberi kamu kekayaan yang sangat besar jika kamu mengingkari Buddha, Dhamma, dan Sangha dan katakan bahwa kamu tidak membutuhkan mereka"

Suppabuddha menjawab, "Tentu saja saya bukan orang miskin, tanpa seorang pun tempat bersandar. Saya orang kaya; saya memiliki tujuh ciri yang dimiliki oleh para ariya; saya mempunyai keyakinan (saddha), kesusilaan (sila), rasa malu berbuat jahat (hiri), rasa takut akan akibat perbuatan jahat (ottappa), pengetahuan (suta), murah hati (caga), dan kebijaksanaan (panna)."

Kemudian Sakka menghadap Sang Buddha mendahului Suppabuddha. Sang Buddha menjawab bahwa tidaklah mudah meskipun seratus atau seribu Sakka untuk membujuk Suppabuddha meninggalkan Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Setelah Suppabuddha sampai di vihara, ia melapor kepada Sang Buddha bahwa ia telah mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Dalam perjalanan pulangnya dari Vihara Jetavana, Suppabuddha mati berlumuran darah diseruduk seekor sapi yang sedang marah, yang sesungguhnya adalah seorang yakkhini* yang bersalin rupa menjadi seekor sapi. Yakkhini ini tidak lain adalah pelacur yang dibunuh oleh Suppabuddha pada kehidupannya yang lampau dan bersumpah untuk membalas dendam.

Ketika berita kematian Suppabuddha sampai di Vihara Jetavana, para bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha, dimana Suppabuddha dilahirkan kembali, dan Sang Buddha menjawab bahwa Suppabuddha dilahirkan kembali di alam dewa Tavatimsa. Sang Buddha juga menerangkan kepada para bhikkhu bahwa Suppabuddha dilahirkan sebagai seorang kusta karena pada salah satu kelahirannya yang lampau, ia pernah meludahi seorang Pacekabuddha**.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Caranti bālā dummedhā amitteneva attanā
karontā pāpakaṃ kammaṃ yaṃ hoti kaṭukapphalaṃ."

Orang bodoh yang dangkal pengetahuannya,
memperlakukan diri sendiri seperti musuh;
ia melakukan perbuatan jahat
yang akan menghasilkan buah yang pahit.
---------

Notes :
* Yakkhini atau yakkhi = yakkha perempuan.
Yakkha (Pali) = yaksha (Sanskrit), 夜叉 yè chā (Chinese), Yasha (Japanese), ba-lu (Burmese), gnod sbyin (Tibetan).

Yakkha termasuk dalam kategori alam dewa Catummaharajika / alam 4 Raja Dewa (catur = 4, maharaja = raja besar)

Yakkha bermacam-macam tabiatnya, ada yang berperangai buruk dan jahat dan suka mengganggu manusia, ada pula yang berperangai baik dan suka menolong manusia, bahkan mengabulkan permintaan. Untuk paritta perlindungan terhadap yakkha jahat kalau pergi ke hutan-hutan, bacalah Atanatiya Sutta / Atanatiya Paritta.
Tidak semua yakkha merupakan pengikut Sang Buddha. Yakkha juga memiliki kemampuan gaib, seperti menyalin rupa, dll. Yakkha juga memiliki berbagai tingkat, ada yakkha penasehat raja, dll. Mereka menguasai/menjaga/tinggal di danau, sungai, pohon, dll.

Yakkha-yakkha ini dipimpin oleh salah satu dari 4 Raja Dewa dari alam Catummaharajika, yaitu Raja Vessavana (Vaisravana/Kuvera).

Cãtummahãrãjika Bhumi (alam 4 raja dewa (四天王 Sì Tiānwáng)) adalah alam dewa tingkat paling rendah dari 6 alam dewa yang ada. 4 Raja Dewa terdiri dari :
- Dhatarattha : raja dewa yang memimpin bagian/arah timur, memimpin para gandhabba (dewa musisi).
- Virulhaka : raja dewa yang memimpin bagian/arah selatan, memimpin para kumbhanda (penjaga hutan, gunung, dan harta karun yang tersembunyi).
- Virupakkha : raja dewa yang memimpin bagian/arah barat, memimpin para naga.
- Vessavana/Kuvera : raja dewa yang memimpin bagian/arah utara, memimpin para yakkha.

Catummaharajika-bhumi juga sering dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan tempat tinggalnya, yaitu :
• Bhumamattha Devata yaitu para dewa yg berdiam di atas tanah (di bumi, gunung, sungai, laut, rumah, vihara, dll)
• Rukakkhattha Devata yaitu para dewa yg berdiam di atas pohon
• Akasattha Devata yaitu para dewa yg berdiam di angkasa

Raja Bimbisara dari kerajaan Magadha, setelah kematiannya dilahirkan kembali menjadi Yakkha, bernama Janavasabha, dibawah pimpinan Raja Vessavana.

** disadur bebas dari Kutthi Sutta Udana 5.3 / PTS Ud 48 :
Salah satu bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha, apa sebabnya Suppabuddha si penderita kusta menjadi seseorang yang miskin dan amat malang? Sang Buddha berkata,
"Dulu kala, bhikkhu, di tempat ini di Rajagaha, Suppabuddha adalah anak dari seorang rentenir/kreditor kaya. Ketika sedang menuju taman hiburan, ia melihat Tagarasikhi, seorang Paccekabuddha, sedang berpindapatta di dalam kota. Ketika melihatnya, ia berpikir, ‘Siapa sih si penderita kusta itu, berkeliaran mencari mangsa?’, sambil meludah dan secara tidak hormat mengarahkan bagian kiri badannya kepada Paccekabuddha tsb, ia lalu pergi. (tanda penghormatan dalam kebudayaan India adalah dengan menjaga bagian kanan tubuh ke arah obyek atau subyek yang kita hormati; seperti waktu kita pradaksina mengelilingi stupa dll, kita memutarinya searah jarum jam).

Sebagai hasil dari perbuatan tersebut ia direbus dalam neraka beratus ribu tahun lamanya, dan setelah itu dilahirkan kembali di sini di Rajagaha sebagai orang miskin, menderita lepra, dan amat malang. Tetapi ketika mendengar Dhamma & Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Tathagatha, ia memperoleh keyakinan (saddha), kesusilaan (sila), rasa malu berbuat jahat (hiri), rasa takut akan akibat perbuatan jahat (ottappa), pengetahuan (suta), murah hati (caga), dan kebijaksanaan (panna). Sekarang, setelah kematiannya, ia telah lahir kembali di alam dewa Tavatimsa. Disana, keindahan dan cahaya tubuhnya mengalahkan dewa-dewa lainnya.

Kisah Tiga Puluh Bhikkhu Dari Paveyyaka (Dhammapada 5 : 65)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(65) Walaupun hanya sesaat saja orang pandai bergaul dengan orang bijaksana,
namun dengan segera ia akan dapat mengerti Dhamma,
bagaikan lidah yang dapat merasakan rasa sayur.
--------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika, tiga puluh orang pemuda dari Paveyyaka bersenang-senang dengan seorang pelacur di hutan. Ketika mereka lengah, pelacur itu mencuri beberapa perhiasan dan melarikan diri.

Pemuda-pemuda tersebut mencari pelacur tersebut di hutan, mereka bertemu dengan Sang Buddha dalam perjalanan. Sang Buddha menyampaikan suatu khotbah kepada para pemuda tersebut dan mereka mencapai tingkat kesucian sotapatti dan semuanya menjadi anggota Sangha dan ikut Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana.

Ketika tinggal di vihara, mereka berlatih dengan sungguh-sungguh hidup sederhana atau melaksanakan latihan keras (dhutanga). Tak lama kemudian, ketika Sang Buddha menyampaikan "Anamatagga Sutta" (Khotbah tentang keberadaan Hidup yang Tak Terhitung), seluruh bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian arahat.

Ketika bhikkhu-bhikkhu yang lain memberikan komentar bahwa bhikkhu-bhikkhu dari Paveyyaka sangat cepat mencapai tingkat kesucian Arahat, Sang Buddha menjawab dalam syair berikut ini:

"Muhuttam api ce viññū paṇḍitaṃ payirupāsati
khippaṃ dhammaṃ vijānāti jivhā sūparasaṃ yathā."

Walaupun hanya sesaat saja orang pandai bergaul dengan orang bijaksana,
namun dengan segera ia akan dapat mengerti Dhamma,
bagaikan lidah yang dapat merasakan rasa sayur.

Kisah Udayi Thera (Dhammapada 5 : 64)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(64) Orang bodoh, walaupun selama hidupnya bergaul dengan orang bijaksana, 
tetap tidak akan mengerti Dhamma, 
bagaikan sendok yang tidak dapat merasakan rasa sayur.
----------------------------------------------------------------------------------------------------

Udayi Thera sering pergi ke tempat ceramah dan duduk di atas tempat duduk, dimana para thera terpelajar duduk pada waktu menyampaikan khotbah*. Pada suatu kesempatan, beberapa bhikkhu tamu menyangka bahwa ia adalah seorang thera yang terpelajar, dan mereka mengajukan beberapa pertanyaan tentang lima kelompok unsur khanda. Udayi Thera tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sebab beliau tidak mengerti sama sekali tentang Dhamma. Para bhikkhu tamu sangat terkejut menemukan seseorang yang tinggal dalam satu vihara dengan Sang Buddha hanya mengetahui sedikit saja tentang khanda dan ayatana (dasar indria dan objek indria).

Kepada bhikkhu tamu itu Sang Buddha menerangkan keadaan Udayi Thera dalam syair berikut ini:

"Yāvajīvam pi ce bālo paṇḍitaṃ payirupāsati
na so dhammaṃ vijānāti dabbī sūparasaṃ yathā."

Orang bodoh, walaupun selama hidupnya bergaul dengan orang bijaksana,
tetap tidak mengerti Dhamma,
bagaikan sendok yang tidak dapat merasakan rasa sayur.
--------

Notes :
* Sekadar info tatakrama di vihara:
Di dalam vihara; di ruang bhaktisala atau dharmasala, di depan altar biasanya terdapat kursi penceramah, yang digunakan oleh bhikkhu untuk berceramah. Sebelum duduk di kursi/tempat duduk itu untuk berceramah, bhikkhu tersebut akan memberikan penghormatan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha.
Tempat duduk ini tidak pantas diduduki sembarangan dan oleh sembarang orang, sangat tidak sopan. Ibaratnya seperti singgasana raja/ratu yang tidak boleh sembarangan orang duduk.

Kisah Dua Orang Pencopet (Dhammapada 5 : 63)


V. Bala Vagga - Orang Bodoh


(63) Bila orang bodoh dapat menyadari kebodohannya, 
maka ia dapat dikatakan bijaksana; 
tetapi orang bodoh yang menganggap dirinya bijaksana, 
sesungguhnya dialah yang disebut orang bodoh.
------------------------------------------------------------------------------------------------------



Suatu ketika dua orang pencopet bersama-sama dengan sekelompok umat awam pergi ke Vihara Jetavana. Di sana Sang Buddha sedang memberikan khotbah. Satu di antara mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencapai tingkat kesucian sotapatti.



Tetapi pencopet satunya lagi tidak memperhatikan khotbah yang disampaikan, karena ia hanya bertujuan untuk mencuri ; dan ia berhasil mengambil sedikit uang dari salah seorang umat.


Setelah khotbah berakhir mereka pulang dan memasak makan siangnya di rumah pencopet kedua yang tadi berhasil mencuri uang. Istri dari pencopet kedua mengejek pencopet pertama: "Kamu amat bijaksana ya, bahkan sampai tidak punya apapun untuk dimasak di rumahmu."


Mendengar pernyataan tersebut, pencopet pertama berpikir, "Orang ini sangat bodoh, dia berpikir bahwa dia sangat pintar." Kemudian bersama-sama dengan sanak keluarganya, ia menghadap Sang Buddha dan menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya.


Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:


"Yo bālo maññatī bālyaṃ paṇḍito vāpi tena so,
bālo ca paṇḍitamānī sa ve bālo ti vuccati."



Bila orang bodoh dapat menyadari kebodohannya,
maka ia dapat dikatakan bijaksana;
tetapi orang bodoh yang menganggap dirinya bijaksana,
sesungguhnya dialah yang disebut orang bodoh.



Semua sanak saudara pencopet pertama tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Kisah Ananda, Seorang Hartawan (Dhammapada 5 : 62)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(62) "Anak-anak ini milikku, kekayaan ini milikku," 
demikianlah pikiran orang bodoh. 
Apabila dirinya sendiri sebenarnya bukan merupakan miliknya, 
bagaimana mungkin anak dan kekayaan itu menjadi miliknya?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tinggallah seorang hartawan yang sangat kaya bernama Ananda di Savatthi. Meskipun dia memiliki delapan puluh crore, dia enggan sekali berdana. Kepada anaknya Mulasiri, dia sering mengatakan, "Jangan berpikir bahwa kekayaan yang kita miliki saat ini banyak sekali. Jangan berikan apapun dari harta milikmu, karena kau harus menambah hartamu. Jika tidak, kekayaanmu semakin berkurang."

Orang kaya ini memiliki lima guci berisi emas yang dikubur di dalam rumahnya, dan ia meninggal dunia tanpa memberitahukan tempat penyimpanan guci itu kepada putranya.

Ananda, orang kaya yang telah meninggal tadi, dilahirkan di sebuah perkampungan pengemis, tidak jauh dari Savatthi. Dimulai sejak ibunya mengandung, penghasilan para pengemis menurun. Penduduk perkampungan itu berpikir bahwa ada seseorang yang tidak beruntung dan menyebabkan kesialan di antara mereka. Dengan membagi mereka ke dalam kelompok-kelompok dan melakukan proses eliminasi, mereka sampai pada kesimpulan bahwa pengemis wanita yang sedang mengandung itu yang mendatangkan kesialan bagi mereka. Maka ia pun diusir keluar dari desa.

Ketika anaknya lahir, anaknya sangat jelek dan menjijikan. Jika wanita itu pergi mengemis sendirian ia akan memperoleh hasil seperti biasa, tetapi jika ia pergi bersama putranya, ia tidak mendapatkan apa-apa. Maka, ketika putranya dapat pergi meminta-minta sendiri, ibunya memberikan piring mengemis di tangannya dan kemudian meninggalkannya. Ketika pengemis muda itu berkelana ke Savatthi, ia teringat rumahnya dan kehidupannya yang lampau. Ia lalu mengunjungi rumah tersebut. Anak-anak dari putranya, Mulasiri, melihatnya. Mereka sangat ketakutan melihat penampilannya yang buruk dan mulai menangis. Pelayan-pelayan kemudian memukulinya dan mendorongnya keluar rumah.

Sang Buddha yang sedang berpindapatta melihat peristiwa itu dan meminta Y.A. Ananda untuk mengundang Mulasiri. Ketika Mulasiri datang, Sang Buddha memberitahukan bahwa pengemis muda tadi adalah ayahnya sendiri pada kehidupan yang lampau. Tetapi Mulasiri tidak mempercayainya. Maka Sang Buddha menyuruh pengemis muda itu untuk menunjukkan dimana ia mengubur lima guci emasnya. Akhirnya Mulasiri menerima kenyataan yang ada, dan sejak itu ia menjadi umat awam pengikut Sang Buddha.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Puttā m’ atthi dhanaṃ m’atthi
iti bālo vihaññati
attā hi attano n’atthi
kuto puttā kuto dhanaṃ."

"Anak-anak ini milikku, kekayaan ini milikku,"
demikianlah pikiran orang bodoh.
Apabila dirinya sendiri sebenarnya bukan merupakan miliknya,
bagaimana mungkin anak dan kekayaan itu menjadi miliknya?